>Melawan Angin, Menantang Ombak

27 Apr

>
“Angin Telah Berubah”. Itulah salah satu judul yang ada di salah satu media online Prancis jelang laga leg II semifinal Liga Champions antara Olympique Lyonnais dan Bayern Muenchen. Meski datang ke Lyon dengan bekal kemenangan 1-0 pada leg I, Bayern justru menghadapi problema besar. Skuad Louis van Gaal dipastikan menciut gara-gara cedera yang didapat Martin Demichelis dan Daniel van Buyten saat menghadapi Borussia Moenchengladbach akhir pekan lalu.

Bukan itu saja, Anatoliy Tymoshchuk yang disiapkan sebagai bek tengah alternatif ternyata tak bisa terbang ke Lyon gara-gara sakit. Dia pun harus tinggal di Muenchen bersama Danijel Pranjic dan Franck Ribery yang terkena skorsing.

Di pihak lain, Lyon justru tengah bugar-bugarnya. Putusan Asosiasi Sepak Bola Prancis untuk menyetujui pemindahan jadwal laga versus AS Monaco dipastikan membuat kondisi fisik Hugo Lloris cs. sangat terjaga. Sedianya, Lyon harus melawan Monaco pada akhir pekan lalu. Namun, kini laga tersebut digeser ke 12 Mei 2010.

Bagi Bayern, kondisi ini jelas tantangan mahaberat dalam mewujudkan ambisi dan memenuhi harapan segenap fans yang telah sembilan tahun menantikan mereka berlaga lagi di partai puncak Liga Champions. Kegeniusan Van Gaal selaku peracik taktik mumpuni benar-benar dipertaruhkan. Dia harus membawa Bayern melawan angin dan menantang ombak.

Secara teknis, Bayern bakal sulit mewujudkan hal itu. Namun, ditinjau dari catatan sejarah, Bayern boleh memendam sejumput optimisme. Sepanjang sejarah berlaga di semifinal, Bayern tak pernah gagal melaju ke final saat mampu memetik kemenangan pada leg I.

Fakta lain juga menunjukkan angin tak sepenuhnya berbalik. Sejak format Liga Champions diberlakukan, hanya dua dari tujuh tim yang gagal lolos ke final setelah menang 1-0 pada leg I. Keduanya adalah Panathinaikos pada 1995-96 dan Chelsea pada 2006-07. Panathinaikos dibantai 0-3 oleh Ajax pada leg II di kandang sendiri. Sementara Chelsea takluk 1-4 via adu penalti dari Liverpool.

Dari fakta yang sama terungkap, tak ada wakil Jerman yang gagal lolos jika sudah mengantungi modal kemenangan 1-0. Borussia Dortmund pada musim 1996-97 berhasil melengkapinya dengan kemenangan 1-0 atas Manchester United di Old Trafford. Lalu, Bayern sendiri mampu menang 2-1 atas Real Madrid pada leg II semifinal musim 2000-01 setelah menang 1-0 di Santiago Bernabeu pada leg I.

Hal lain yang patut dicatat, kekuatan Bayern pada saat ini sebenarnya tak terletak pada individu-individu tertentu. Arjen Robben memang sosok Der Retter dalam banyak laga, namun dia bukanlah inti kekuatan Bayern. Pusat permainan FC Hollywood adalah kolektivitas yang terwujud dalam aliran bola dari kaki ke kaki. Itulah Possession football ala Van Gaal. Penguasaan bola yang sangat baik dan dominan inilah sumber kepercayaan diri Mark van Bommel dkk. saat di lapangan.

Kini, dengan skuad yang compang-camping karena skorsing dan cedera, Bayern tak lantas bisa dipandang sebelah mata. Kondisi tak ideal justru bisa menjadi tambahan kekuatan. Di Lyon, anak-anak Bayern akan lebih hati-hati, waspada, dan tak jemawa. Kekompakan di dalam tim pun akan terjalin dengan lebih erat.

Terakhir, Bayern juga sudah sangat akrab dengan situasi sulit seperti saat ini. Tandang ke Juventus pada laga terakhir fase grup, lawatan ke Firenze dan Manchester pada babak 16-besar dan perempatfinal adalah buktinya. Hasilnya, mereka selalu bisa tampil sebagai pemenang. So, tak ada yang perlu dirisaukan, bukan? (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: