Jerman Petik Buah Pembinaan

29 Mar
Hummels, Schmelzer, Großkreutz, dan Götze adalah contoh sukses sistem pembinaan pemain di Jerman.

Hummels, Schmelzer, Großkreutz, dan Götze adalah contoh sukses sistem pembinaan pemain di Jerman.

DALAM BANYAK HAL, pembibitan merupakan hal penting. Bukan hanya di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan manajemen, di bidang olahraga pun demikian. Tak terkecuali di sepak bola. Jerman adalah salah satu yang kini menikmati hasil investasi besar di pembibitan dan pembinaan pemain yang dilakukan secara intensif dalam satu dekade terakhir.

Berdasarkan laporan yang disampaikan Deutscher Fußball Liga (DFL), 52,4 persen pemain yang terdaftar di skuad klub-klub Bundesliga berasal dari akademi. Sementara 5.400 pemain hasil didikan akademi tersebar di 282 klub di seantero Jerman. Presiden DFL Dr. Reinhard Rauball mengaku bangga atas keberhasilan tersebut.

“Perkembangan akademi-akademi, tak dapat disangkal, adalah kisah sukses yang membuat klub-klub, asosiasi liga, dan DFL sangat bangga,” ucap Rauball. “Pengembangan pemain usia muda yang dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir kian menunjukkan buahnya. Itu terbukti dengan kian banyaknya pemain muda di Bundesliga dan tim nasional, juga keberhasilan timnas junior di pelbagai tingkatan. Kini, kami menjadi salah satu yang terbaik di dunia dalam pengembangan pemain usia muda.”

Keseriusan Jerman dalam mengurusi pembibitan dan pembinaan pemain muda berawal dari kesepakatan bersama para anggota asosiasi liga dalam rapat tahunan yang digelar 28 Februari 2001. Saat itu, diputuskan bahwa setiap klub profesional harus memiliki akademi dan mengurusnya dengan serius. Kebijakan itu diambil seiring kegagalan Jerman di Piala Eropa 2000 yang antara lain disebabkan oleh seretnya regenerasi.

Menurut CEO DFL Christian Seifert, keseriusan itu antara lain dwujudkan dalam pengadaan fasilitas apik, para pelatih jempolan, dan standar pendidikan yang tinggi. Untuk itu semua, tentu saja tak sedikit dana yang dikeluarkan. Hingga saat ini, tercatat 540 juta euro telah diinvestasikan. “Kini, kami akan memastikan program pelatihan dengan standar tinggi ini terus dikembangkan,” janji Seifert.

Hmm.., kapan ya Indonesia mengikuti Jerman? (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: