Rahasia Sang Mini-Kahn

12 Apr
Demi menjaga konsentrasi, Marc-André ter Stegen larang sang ibu ke stadion. (Foto: www.kicker.de)

Demi menjaga konsentrasi, Marc-André ter Stegen larang sang ibu ke stadion. (Foto: http://www.kicker.de)

KEMENANGAN TELAK 5-1 yang dibukukan Borussia Mönchengladbach atas rival sewilayah, 1.FC Köln, Minggu (10/4) lalu terasa sangat spesial bagi seluruh fans Die Fohlen. Pada laga itu, untuk kali pertama, pelatih Lucien Favre memberikan kepercayaan kepada penjaga gawang belia, Marc-André ter Stegen, yang baru menginjak umur 18 tahun.

Hebatnya, kiper yang kerap disebut sebagai Mini-Kahn karena tipikalnya yang mirip dengan Oliver Kahn itu tampil apik. Salah satunya, dia mementahkan peluang emas Lukas Podolski sesaat setelah babak kedua dimulai. Tak pelak, puja-puji pun mengalir deras. Juan Arango, sang pencetak gol pembuka Mönchengladbach tak ragu menilai ter Stegen bakal menjulang tinggi laiknya Kahn.

“Dia tipe orang yang luar biasa. Saya merasa dia akan menjadi salah satu kiper terbaik Jerman,” ujar Arango yang berasal dari Venezuela.

Potensi yang dimiliki kiper asli didikan Mönchengladbach itu juga diakui Favre. Pelatih asal Swiss itu dengan tegas berkata, “Dia sangat potensial, saya yakin akan hal itu. Jika ada yang tak melihat kualitasnya, dia pasti buta.”

Uniknya, performa apik pada debut yang dilakoni dalam partai derby itu tak terlepas dari satu rahasia. Ter Stegen ternyata secara khusus melarang sang ibu untuk menontonnya langsung di Borussia Park. Itu terbilang mengejutkan karena biasanya seseorang mengingnkan kehadiran orang-orang terdekat dalam menjalani momen spesial demi meningkatkan motivasi.

Ternyata ter Stegen punya alasan khusus. “Aku hanya ingin berkonsentrasi penuh pada pertandingan yang kulakoni,” ucap kiper yang sejak umur 4 tahun sudah jatuh cinta kepada Die Fohlen itu kepada Kölner Express. “Aku sudah mengatakan hal itu kepada dia sebelumnya. Dia bisa mengerti dan sama sekali tak marah. Itu membuatku merasa lega dan bisa tidur nyenyak.”

Langkah itu ternyata berbuah manis. Selain mampu menjadi tembok yang sulit ditembus oleh para penggawa Die Geißbocke, ter Stegen juga jadi lebih lepas dan percaya diri. Dia tak ragu mengomando rekan-rekannya yang jauh lebih tua. Lalu, dia pun menunjukkan ekspresi kegembiraan kepada para fans fanatik yang berada di Tribun Utara.

Putusan ter Stegen melarang sang ibu memang bisa dimengerti. Maklum, dia baru mengetahui penunjukan dirinya sebagai kiper untuk laga itu hanya dua hari sebelumnya. Sebagai pemain yang masih belia, itu jelas kejutan besar yang membuat perasaan berkecamuk. Dia pun rawan disergap rasa grogi karena tampil perdana dalam partai penuh gengsi dan emosi.

Atas hasil laga dan kesempatan bermain yang diperolehnya, ter Stegen berkata, “Aku sangat senang mendapatkan kepercayaan dari pelatih, rekan-rekan setim, dan para fans. Semoga saja penampilanku cukup untuk menjawab kepercayaan mereka itu. Bagiku, kepercayaan dari semua orang sangatlah penting.”

Meski begitu, ter Stegen lumayan kritis terhadap dirinya sendiri. Dia menilai dirinya masih perlu banyak belajar, terutama saat dia hampir gagal melewati Milivoje Novakovic saat menggiring bola. “Aku menilai itu sebagai pelajaran dan pengalaman penting sehingga tak mengulangi kesalahan serupa pada waktu yang akan datang. Itu mengingatkanku bahwa ini bukan Regionalliga. Di Bundesliga, semua pemain jauh lebih hebat,” ucap dia.

Sikap kritis itu tentu saja kian membuat ter Stegen mirip dengan Kahn. Selamat datang di Bundesliga 1, Mini-Kahn! (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: