Misteri Eks Pelatih Timnas

13 Apr
Marco Pezzaiuoli segaris nasib dengan Herrlich, Klinsmann, Völler, dan Vogts. (Foto: www.spox.com)

Marco Pezzaiuoli segaris nasib dengan Herrlich, Klinsmann, Völler, dan Vogts. (Foto: http://www.spox.com)

PEMECATAN PELATIH sepertinya masih menjadi tren di Bundesliga 1. Setelah Louis van Gaal didepak FC Bayern München pada Minggu (10/4), giliran TSG 1899 Hoffenheim yang memastikan kontrak Marco Pezzaiouli bakal usai pada akhir musim nanti hanya dua hari berselang. Kepastian itu menambah panjang daftar pelatih yang dipecat pada musim ini.

Sejak Christian Gross pada Oktober tahun lalu, Pezzaiuoli menjadi pelatih ke-11 yang harus pergi. Dari mereka, hanya Ralf Rangnick yang hengkang karena konflik dengan manajemen. Berbeda dengan para pelatih lain, Rangnick meletakkan jabatan karena merasa otoritasnya direcoki investor utama Hoffe, Dietmar Hopp. Pemicunya adalah penjualan Luiz Gustavo ke Bayern tanpa seizinnya pada bursa transfer musim dingin.

Pezzaiuoli adalah sosok yang lantas mengisi kursi yang ditinggalkan Rangnick di Hoffe. Statusnya memang caretaker, namun manajemen memproyeksikan dirinya untuk bertugas dalam jangka waktu lama. Sayang, perkembangan tim yang tak memuaskan membuat eks pelatih timnas junior Jerman itu diharuskan pergi pada akhir musim.

Setidaknya, itulah yang dikatakan Manajer Ernst Tanner saat mengungkapkan penghentian kerja sama dengan Pezzaiuoli, Selasa (12/4). “Situasinya memang tak mudah bagi Marco Pezzaiuoli atau klub menyusul pergantian pelatih dan transfer pemain pada musim dingin lalu,” terang dia. “Meski demikian, setelah meninjau perkembangan dalam beberapa pekan terakhr, kami memutuskan lebih baik memulai musim baru dengan pelatih anyar.”

Nasib Pezzaiuoli sama dengan Jens Keller di VfB Stuttgart dan Pierre Littbarski di VfL Wolfsburg. Keduanya bahkan lebih tragis karena hanya bertugas dalam waktu yang sangat pendek. Hanya saja, khusus untuk Littbarski, dia masih dilibatkan di staf pelatih ketika manajemen Die Wolfe memanggil pulang Felix Magath yang didepak FC Schalke 04 pada Maret lalu.

Melihat reputasinya, Pezzaiuoli memang tak punya catatan impresif. Satu hal yang membuat dia menarik adalah prestasinya mengantar Jerman menjuarai Piala Eropa U-17 pada 2009. Alasan itu pula yang membuat dia diangkat sebagai asisten Rangnick pada awal musim ini.

Nah, seiring putusan Hoffe mendepaknya pada akhir musim nanti, ada satu fenomena menarik. Pezzaiuoli melanjutkan kiprah buruk para pelatih yang pernah menangani timnas Jerman, baik itu tim senior maupun junior. Tak percaya? Tengok saja deretan nama ini: Heiko Herrlich, Rudi Völler, Jürgen Klinsmann, dan Hans-Hubert Vogts. Seperti halnya Pezzaiuoli, mereka juga jeblok saat menukangi klub.

Herrlich adalah pelatih yang mengantarkan Toni Kroos cs menjadi juara III di Piala Dunia U-17 pada 2007. Namun, dia tak berdaya saat ditunjuk sebagai pelatih VfL Bochum pada awal musim 2009-10, tepatnya 27 Oktober 2009. Dia hanya bertahan enam bulan. Pada 29 April 2010, eks striker timnas Jerman itu digantikan Dariusz Wosz hingga akhir musim karena Bochum tak jua beranjak dari zona degradasi.

Dua nama lainnya, Völler dan Klinsmann, punya prestasi lebih mentereng. Völler mengantar Jerman menjadi runner-up di Piala Dunia 2002, sedangkan Klinsmann membawa Der Panzer juara III Piala Dunia 2006. Anehnya, mereka tak mampu menularkan kesuksesan itu saat menangani klub. Völler gagal total saat dipercaya menukangi AS Roma pada awal musim 2004-05. Dikontrak satu musim, kerjanya berakhir hanya dalam tiga laga! Sekali imbang dan dua kali kalah plus ketidakmampuan menangani bintang-bintang I Gialorossi membuat dia terjengkang.

Kisah Klinsmann lebih unik. Datang ke Säbenerstrasse pada awal musim 2008-09, dia dipercaya sebagai sosok yang bakal membawa FC Bayern München ke era baru. Dukungan penuh diberikan manajemen klub, termasuk dalam merombak total fasilitas di klub itu. Mereka pun tak banyak cakap ketika Klinsmann menebar beberapa patung Buddha di sana.

Hasilnya ternyata amburadul. Bayern di bawah Klinsmann mengawali musim dengan buruk. Seiring performa tim yang labil dan rangkaian hasil buruk, terutama kekalahan telak dari Barcelona di Liga Champions dan kekalahan memalukan dari Wolfsburg, dia pun didepak saat Bayern terpeleset ke posisi ketiga pada pekan ke-29. Sebab lainnya, Bayern tak pernah bertengger di puncak klasemen! Itu adalah aib tersendiri bagi sebuah klub raksasa seperti Bayern.

Nasib sial juga dialami Hans-Hubert Vogts, pelatih yang membawa Jerman juara Euro 1996. Ditunjuk sebagai pengganti Christoph Daum yang tersangkut skandal kokain pada November 2000, dia hanya bisa mengantar Bayer 04 Leverkusen ke posisi keempat pada akhir musim. Hasil itu memang membuat Die Werkself bermain di Liga Champions namun ternyata tak cukup memuaskan para petinggi klub. Maklum, dalam empat musim sebelumnya, Leverkusen selalu berada di tiga besar. Bahkan, pada musim 1996-97, 1998-99, dan 1999-00, Leverkusen adalah runner-up. Vogts pun dipecat.

Entah apa yang membuat nasib para eks pelatih timnas Jerman itu selalu miris. Satu hal yang pasti, ketertarikan klub terhadap pelatih timnas Jerman tetap tinggi. Buktinya, Bayern sempat membidik Joachim Löw untuk menggantikan Louis van Gaal. Lalu, nama Horst Hrubesch, pelatih timnas U-19 yang sempat mengantar Jerman juara Piala Eropa U-21 pada 2009, juga mengapung sebagai salah satu kandidat pelatih Hamburger SV musim depan. (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: