Ebert Jadi Pahlawan

17 Jun
Patrick Ebert

Citra buruk Patrick Ebert sebagai bad boy agak terkikis oleh aksinya pekan lalu yang berhasil menyelamatkan nyawa seorang lelaki. (Foto: http://www.bz-berlin.de)

SELAMA INI, berita soal Patrick Ebert hampir selalu negatif. Ditahan polisi karena mengebut dalam keadaan mabuk atau terlibat perkelahian saat berada di kelab malam adalah topik yang sering mengiring gelandang asal Hertha BSC Berlin itu. Berita positif yang paling muncul tentu hanya karena aksinya di lapangan.

Akan tetapi, akhir pekan lalu, berita tentangnya sungguh berbeda. Ebert menjadi pahlawan yang menyelamatkan nyawa seseorang yang hendak bunuh diri! Hal itu terjadi pada dinihari di tangga menuju stasiun bawah tanah Adenauerplatz di Charlottenburg.

Ceritanya, sekitar pukul 3 pagi, Ebert baru pulang dari sebuah pesta yang diadakan seorang temannya. Di Adenauerplatz, dia tertahan oleh lampu merah. Saat itu, terdengar suara perempuan meminta tolong. Ebert mengecilkan suara radio, lalu membuka jendela Range Rover­-nya. Dia melihat seorang wanita yang tengah menahan tubuh seseorang yang terjatuh ke lorong menuju stasiun.

“Aku memarkir mobil, lalu menghampiri dia. Tadinya aku hendak bertanya kira-kira apa yang bisa kubantu. Tapi, ternyata dia tengah berusaha sekuat tenaga menahan seorang lelaki,” kisah Ebert kepada BZ Berlin.

Lelaki itu diketahui mabuk dan berupaya menghabisi nyawanya sendiri dengan terjun ke tangga beton. Andai sampai terjadi, patah tulang sudah pasti. Akibat terburuk, tentu saja dia bisa kehilangan nyawanya. Ebert pun lantas meminta lelaki itu untuk tak meneruskan niatnya dan berusaha naik kembali.

“Lelaki itu beratnya sekitar 130 kg. Si perempuan tak akan pernah bisa menyelamatkan dia karena bobotnya itu. Bahkan jika berdua pun sulit mengangkat dia. Kami berteriak-teriak meminta tolong, tapi tak ada yang datang. Lima hingga enam orang hanya lewat begitu saja. Sungguh buruk. Aku sendiri selalu diajari untuk menolong orang lain,” lanjut Ebert lagi.

Pada akhirnya, upaya Ebert berhasil. Seorang sopir taksi mau mengulurkan tangan. Berdua, mereka mencoba mengangkat lelaki itu hingga akhirnya polisi tiba dan mengambil alih situasi. Perempuan yang ternyata berasal dari Rusia lantas menyampaikan terima kasih kepada Ebert atas pertolongannya.

Lalu, apakah Ebert merasa menjadi pahlawan? Ternyata tidak. Dia menilai apa yang dilakukannya adalah sebuah kewajiban sebagai manusia. “Aku hanya ingin membantu perempuan itu. Aku hanya bisa memohon kepada setiap orang untuk tidak hanya menonton, tapi mengulurkan bantuan,” jelas pemain berumur 24 tahun itu. “Belakangan ini, banyak sekali kejadian yang menunjukkan tidak adanya lagi keberanian moral. Dua pekan lalu, aku baru berbicara soal ini dengan ibuku. Kini, aku mengalaminya sendiri.”

Meski menolak dianggap sebagai pahlawan, setidaknya pertolongan yang diberikan kepada perempuan Rusia yang hendak menyelamatkan seorang lelaki yang berniat bunuh diri itu agak menghapus citra buruk Ebert sebagai bad boy. Walau urakan, dia ternyata masih punya kepedulian kepada sesama. (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: