Löw Tak Terjebak Euforia

4 Sep
Joachim Loew

Meski timnas Jerman menjadi tim pertama yang lolos dari babak kualifikasi ke putaran final Piala Eropa 2012, Joachim Löw belum merasa puas. (Foto: http://www.spiegel.de)

KEMENANGAN 6-2 atas Austria pada lanjutan kualifikasi Piala Eropa, Jumat (2/9), memang membahagiakan seluruh fans dan penggawa timnas Jerman. Meski begitu, pelatih Joachim Löw tidak lantas terjebak dalam euforia. Seperti biasa, dia tetap belum puas atas raihan anak-anak asuhnya walaupun kemenangan itu secara otomatis membuat Der Panzer sebagai tim pertama yang lolos ke putaran final dari kualifikasi.

“Saya senang tapi tidak terserang euforia. Saya masih punya akal sehat dan sadar akan realitas yang ada,” jelas Löw dalam wawancara dengan Bild. “Hampir semua orang kini berbicara tentang gelar juara. Akan tetapi, bagi saya, itu terlalu dini.”

Sikap itu bukan tanpa alasan. Setidaknya ada dua hal yang membuat eks asisten Jürgen Klinsmann itu tidak jemawa. Pertama, Piala Eropa masih lumayan lama. Ada banyak hal bisa terjadi dalam rentang waktu itu. Kedua, dia menilai Jerman belumlah teruji.

“Bagi saya, hal terpenting adalah memastikan kami bisa menunjukkan dominasi dan bermain atraktif saat menghadapi tim-tim kuat seperti Brasil,” lanjut Löw. “Siapa pun yang mengenal saya pasti tahu bahwa kemenangan tidak lantas membuat saya puas. Saya ingin kami berkembang terus.”

Dalam pandangan Löw, Jerman memang menunjukkan stabilitas dan perkembangan signifikan. Namun, jika dibandingkan dengan Spanyol, Jerman masih berada di belakang. Itulah yang membuat dia tetap belum puas dan penasaran. Apalagi, menurut dia, Jerman masih perlu sebuah filosofi baru.

“Sepak bola sudah berubah. Punya pemain-pemain bagus saja belumlah cukup untuk juara. Kini, sistem dan otomatisasi jauh lebih penting. Kami memang harus mempertahankan mentalitas Jerman, tapi jika hanya bergantung pada hal itu di level internasional, habislah kami. Dengan hanya mentalitas Jerman, kami akan mampu meladeni Spanyol selama sepuluh menit, lalu semuanya berakhir. Kami harus belajar dari Barcelona yang telah menunjukkan bahwa filosofi bisa dibangun secara sistematis,” urai Löw lagi.

Atas dasar itulah, Löw menekankan pihaknya harus bekerja lebih keras dan tak mudah berpuas diri. Apalagi sudah membayangkan merengkuh trofi Henry Delaunay yang terakhir kali diboyong ke Jerman pada 1996. (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: