Kepedihan Terbesar Kehl

25 Dec
Sebastian Kehl

Keterpurukan Borussia Dortmund di fase grup Liga Champions diakui Sebastian Kehl sebagai pengalaman paling pahit sepanjang 2011. (Foto: http://www.ruhrnachrichten.de)

TAHUN KEBANGKITAN adalah tajuk yang sesuai untuk Sebastian Kehl pada tahun ini. Akhir musim lalu, walau tak berkontribusi besar, dia mampu merengkuh gelar juara Bundesliga 1 bersama Borussia Dortmund. Itu adalah kali kedua dirinya merasakan manisnya gelar juara. Sebelumnya, Kehl mengantar Die Schwarzgelben juara pada 2001-02.

Lalu, pada musim ini, dia kembali menjadi pilar tim seiring kepindahan Nuri Sahin ke Real Madrid, cedera yang membekap Sven Bender, dan performa labil Ilkay Gündogan. Hingga akhir paruh pertama, Kehl tercatat turun dalam sebelas laga yang dimainkan Dortmund di Bundesliga 1 dan lima partai di Liga Champions.

Akan tetapi, itu bukan berarti 2011 adalah tahun tanpa kado pahit. Kehl mengaku ada satu kepedihan besar yang didapatkannya pada tahun ini. Itu adalah kegagalan Dortmund di Liga Champions. Datang sebagai kuda hitam yang paling diperhitungkan, anak-anak asuh Jürgen Klopp malah gagal total. Hanya meraup satu kemenangan, mereka pun terdampar di dasar klasemen Grup F.

“Apa pun alasannya, sungguh menyedihkan kami tak mampu berbuat banyak di sana. Padahal kami punya kemampuan untuk berhasil. Sebagai juara Jerman yang tersingkir dengan menghuni dasar klasemen, itu jelas kenyataan yang sangat pahit bagi kami,” ungkap Kehl dalam wawancara dengan ran.de.

Hal yang membuat kegagalan itu terasa sangat getir adalah ketiadaan penjelasan yang cukup karena performa mereka di Bundesliga terbilang apik. “Sangat sulit menganalisisnya secara detail. Bahkan, jadwal padat yang membuat kami harus lebih bekerja keras karena harus segera fokus pada laga berikut begitu satu laga usai pun tak bisa dijadikan alasan,” papar dia.

Bagi Kehl, kasus kegagalan di Liga Champions itu adalah beban khusus saat menjalani masa libur tengah kompetisi. Bagaimanapun, menurut Kehl, itu akan membuat dia berpikir keras dan bercermin. Namun, bukan untuk menyesalinya, melainkan untuk mengambil pelajaran berharga dari kepahitan tersebut. (Sepp Ginz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: