Xhaka Ingin Kembalikan Putaran Roda

8 Jan
Granit Xhaka bertekad untuk berjuang keras mendapatkan kembali tempat di tim inti. (Foto: www.bundesliga.de)

Granit Xhaka bertekad untuk berjuang keras mendapatkan kembali tempat di tim inti. (Foto: http://www.bundesliga.de)

ADA EKSPEKTASI BESAR yang menyambut kedatangan Granit Xhaka ke Borussia Mönchengladbach pada awal musim ini. Meski masih tergolong belia, dengan pengalamannya, dia diharapkan mampu menjadi andalan baru seiring kepergian para pilar lama macam Marco Reus, Dante, dan Roman Neustädter. Secara khusus, dia diyakini bakal menutup lubang yang ditinggalkan Neustädter di lini tengah.

Harapan tinggal harapan. Alih-alih menjadi andalan, pemain berdarah Kosovo itu justru terpinggirkan. Performa kurang meyakinkan dalam delapan laga awal adalah sebabnya. Xhaka harus merelakan tempatnya di tim inti diambil alih Thorben Marx yang terbukti mampu memberikan keseimbangan di lini tengah bersama Havard Nordveit.

Fakta itu jelas sangat pahit bagi Xhaka yang sebelumnya menjadi andalan di FC Basel. Dalam wawancara dengan situs resmi Bundesliga, dia mengakui hal itu. “Segalanya sungguh sempurna bagiku selama dua tahun di Basel. Aku sangat sukses di sana, meraih dua kali gelar ganda dan mencapai babak 16-besar Liga Champions. Mungkin secara tidak sadar aku mulai berpikir itu akan berlanjut tanpa perlu bekerja keras. Tapi, setelah delapan laga, semuanya tiba-tiba berubah. Aku kehilangan tempatku. Awalnya, aku berpikir itu hanya untuk dua atau tiga pertandingan. Tapi, ternyata terus berlanjut. Setiap pemain pasti kecewa ketika tidak bermain,” beber dia.

Atas dasar itu, Xhaka mencanangkan target pasti pada putaran kedua nanti. Dia ingin memutar kembali roda kariernya ke posisi seperti pada awal musim atau bahkan seperti dua musim sebelumnya saat membela Basel. “Aku ingin mendapatkan kembali tempatku di tim inti!” tandas dia. “Dalam masa persiapan ini, semuanya kembali disusun ulang. Semua orang memiliki peluang untuk membuktikan diri selama pemusatan latihan.”

Itu tentu saja tidak semudah membalik telapak tangan. Secara fair, Xhaka mengakui performa tim utama tanpa dirinya lumayan baik. “Aku memulai delapan laga awal Bundesliga 1, lalu tersingkir dari tim. Setelah itu, tim ternyata lebih mapan dan bermain baik. Jujur saja, kalau menjadi pelatih, aku tak akan mengubah susunan di tim,” urai pemain berumur 20 tahun itu.

Guna mewujudkan hal itu, Xhaka menegaskan dirinya akan berusaha keras menunjukkan kemampuan terbaiknya di depan pelatih Lucien Favre dan tak mengulangi lagi berbagai kesalahan yang dilakukan pada putaran pertama. Secara khusus, dia menjadikan pengalaman pahit tergeser dari tim utama sebagai motivasi tersendiri.

“Ketika mendapatkan pengalaman seperti itu, aku harus segera bangkit. Bagiku, pengalaman itu tidaklah negatif. Itu adalah bagian dari kurva pembelajaran,” tutur Xhaka. “Selama delapan hari, aku akan mengeluarkan segenap kemampuanku. Jika kemudian mendapatkan kesempatan, aku akan memanfaatkannya dengan baik.”

Sebuah tekad yang sangat kuat. Namun, seperti diakui Xhaka, pada akhirnya pelatih pula yang menentukan putusan akhir. Jika Favre sudah merasa puas dengan komposisi timnya saat ini, tentu cukup sulit bagi Xhaka untuk kembali ke tempatnya. Dia bakal butuh satu momentum luar biasa untuk merebut kembali hati Favre. (@SeppGinz)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: