Archive | DFB Pokal RSS feed for this section

Klopp Akui Sulit Pertahankan Gelar

8 Jan
Jürgen Klopp mengakui sulit menjegal FC Bayern München musim ini. (Foto: www.focus.de)

Jürgen Klopp mengakui sulit menjegal FC Bayern München musim ini. (Foto: http://www.focus.de)

PELUANG Borussia Dortmund untuk mencetak sejarah dengan menjuarai Bundesliga 1 tiga kali beruntun kian menipis. Jürgen Klopp, pelatih Dortmund, mengakui hal itu dalam wawancara dengan Deutsche Presse Agentur. Menurut dia, sangat sulit menghentikan laju Die Roten pada saat ini.

“Kami tidak berpikir bisa menyusul Bayern dalam ketertingalan 12 poin saat ini,” kata Klopp. “Gelar juara tak akan bisa direbut dari Bayern pada saat ini. Anda tak bisa merebutnya dari mereka, kecuali mereka yang memberikannya. Sayangnya, saya kira itu tak akan mereka lakukan.”

Situasi itu menurut Klopp, menuntut pihaknya untuk memikirkan langkah berbeda pada musim ini. Memasuki putaran kedua, fokus Dortmund adalah meraup hasil sebaik-baiknya di Bundesliga 1. Lalu, mereka juga akan lebih berkonsentrasi di Liga Champions dan DFB Pokal. Di Liga Champions, target terdekat adalah menyingkirkan Shakhtar Donetsk pada babak 16-besar. Sementara di DFB Pokal, mengandaskan Bayern pada babak perempat final.

Mengenai target Die Schwazgelben pada putaran kedua, eks pelatih 1.FSV Mainz 05 itu bertutur, “Posisi kedua akan sangat bagus. Posisi ketiga pun lebih dari cukup. Target kami adalah posisi kedua. Kami harus mengakui kemungkinan yang dimiliki Bayern.”

Lebih jauh, Klopp mengakui tak akan mudah mewujudkan hal itu karena banyak rival berat yang siap menjegal. Dia secara khusus menyebut Bayer 04 Leverkusen dan Eintracht Frankfurt sebagai pesaing utama. “Oleh karena itulah kami ingin memulai putaran kedua dengan kekuatan penuh, tidak pelan-pelan,” ucap dia.

Meski demikian, target itu tentunya tidaklah mutlak. Sangat mungkin Klopp merevisi target itu ketika Bayern oleng dan mereka mampu memperpendek ketertinggalan. Bagaimanapun, bola itu bulat, kan? (@SeppGinz)

Advertisements

Dante Samai Matthäus?

22 Mar
Dante Bonfim versus Manuel Neuer

Kegagalan penalti Dante Bonfim mengingatkan publik sepak bola kepada Lothar Matthäus pada musim 1983-84. (Foto: http://www.tz-online.de)

FIGUR TRAGIS selalu ada dalam setiap drama. Tak terkecuali di sepak bola. Pada laga Borussia Mönchengladbach versus FC Bayern München yang harus diakhiri lewat adu penalti, Rabu (21/3), sosok tragis itu bisa jadi bernama Havard Nordtveit yang eksekusinya mampu diblok kiper Manuel Neuer dan menjadi penentu kelolosan bayern ke final DFB Pokal.

Akan tetapi, di mata banyak media massa Jerman, ada sosok lain yang lebih lebih pantas menjadi figur tragis. Dia adalah bek tengah Dante. Tampil lugas mengawal pertahanan Die Fohlen sepanjang 120 menit, dia justru mengirim bola ke atas mistar gawang Neuer saat menjadi eksekutor ketiga. Hal yang menarik, Dante dalam beberapa pekan belakangan terus dihubung-hubungkan dengan Bayern.

Ingatan para penggila sepak bola pun langsung tertuju kepada Lothar Matthäus. Pada final DFB Pokal 1983-84, dia menjadi eksekutor pertama Gladbach. Sebagai pemain yang terbiasa melakukan eksekusi penalti, tak abnyak orang yang menyangka dia bakal gagal menaklukkan Jean-Marie Pfaff. Tapi, seperti halnya Dante, sepakannya malah melambung.

Hal yang membuat Dante dikaitkan dengan Matthäus adalah fakta bahwa sebelum laga final itu, dia sudah dipastikan hijrah ke Bayern. gara-gara itulah, para fans menyebut dia sebagai Judas. Kecaman kian menjadi setelah kegagalan eksekusi penalti pada final DFB Pokal tersebut. Dia menjadi kambing hitam yang tak termaafkan.

Pertanyaannya kemudian, akankah Dante benar-benar mengikuti Matthäus dengan merapat ke Bayern pada musim depan? Banyak media massa Jerman meyakini hal itu. Namun, para petinggi Die Fohlen juga yakin bek asal Brasil itu akan tetap di Borussia Park pada musim depan. So, kita tunggu saja perkembangannya. (Sepp Ginz)

Bayern Pertahankan Dua Tradisi

22 Mar
FC Bayern Muenchen

Kemenangan atas Borussia Monchengladbach pada Rabu (21/3) membuat FC Bayern Munchen mempertahankan tradisi kemenangan atas Die Fohlen di DFB Pokal dan tak pernah dua kali berturut-turut tersingkir di semifinal. (Foto: http://www.kicker.de)

KEMENANGAN DRAMATIS yang dibukukan FC Bayern München atas Borussia Mönchengladbach pada laga semifinal DFB Pokal di Borussia Park, Rabu (21/3), ternyata memiliki catatan penting. Kemenangan itu membuat Bayern mempertahankan dua tradisi sekaligus.

Tradisi pertama adalah tak pernah kalah dari Die Fohlen di DFB Pokal. Sebelum laga yang harus ditentukan lewat adu penalti itu, Bayern dan Gladbach sempat enam kali bertemu di ajang tersebut. Hasilnya, Bayern meraih lima kemenangan dan sekali imbang. Satu-satunya hasil imbang terjadi pada Babak II musim 1987-88. Kala itu, kedua tim berbagi angka sama 2-2 hingga perpanjangan waktu usai.

Tradisi kedua yang terjaga adalah rekor tak pernah tersingkir di semifinal dalam dua musim berturut-turut. Sepanjang sejarah, Bayern telah 23 kali masuk semifinal DFB Pokal. Dari jumlah itu, FC Hollywood hanya lima kali gagal melangkah ke final. Salah satunya pada musim lalu ketika mereka ditekuk FC Schalke 04 lewat gol tunggal Raul Gonzalez.

Nah, menariknya, Bayern selalu lolos ke final jika pada musim sebelumnya tersingkir di semifinal. Keberhasilan musim ini adalah yang ketiga kalinya. Dua lainnya adalah pada 1968-69 dan 2002-03. Pada 1968-69, Bayern lolos ke final dengan menumbangkan 1.FC Nürnberg 2-0 lewat brace dari Der Bomber, Gerd Müller. Sebelumnya, pada musim 1967-68, Bayern tersingkir di babak ini oleh VfL Bochum dengan skor 1-2.

Kejadian serupa terulang pada musim 2002-03. Setelah disingkirkan Schalke 0-2 pada semifinal musim 2001-02, Bayern tak tertahan oleh Bayer Leverkusen. FC Hollywood menang 3-1 melalui dua gol Giovane Elber dan satu dari Michael Ballack yang hanya berbalas gol Carsten Ramelow.

Secara khusus, bercermin dari dua peristiwa serupa, Bayern boleh berharap banyak untuk merebut gelar ke-16 di ajang DFB Pokal. Pasalnya, pada 1968-69 dan 2002-03, mereka lantas menjadi juara. Pada 1968-69, Bayern menang 2-1 atas Schalke di partai puncak, sementara pada 2002-03, 1.FC Kaiserslautern yang dilumat 3-1 di partai pamungkas. (Sepp Ginz)

Sang Pahlawan yang Tertinggal

22 Mar
Ilkay Guendogan

Luapan kegembiraan Ilkay Gündogan sempat berubah menjadi kekesalan karena ditinggal bus tim saat bertolak dari stadion. (Foto: http://www.ruhrnachrichten.de)

PADA SELASA (20/3) LALU¸ Ilkay Gündogan menjadi sosok yang paling dielu-elukan para fans Borussia Dortmund. Berkat sepakan pemain berdarah Turki itu, Die Schwarzgelben berhasil meraup kemenangan tipis 1-0 atas SpVgg Greuther Fürth tepat pada menit terakhir perpanjangan waktu. Predikat pahlawan pun disematkan ke dada eks penggawa 1.FC Nürnberg tersebut.

Akan tetapi, siapa sangka, gara-gara menjadi pahlawan itu, Gündogan justru mendapatkan pengalaman tak mengenakkan saat laga usai. Sibuk melayani para wartawan yang membombardir dengan banyak pertanyaan, dia jadi terlupakan oleh rekan-rekannya. Mereka secara tak sengaja meninggalkan Gündogan sendirian.

Menyadari telah ditinggal oleh bus hitam milik Dortmund, Gündogan hanya bisa merutuk sambil meratapi nasibnya. Untungnya, ada seorang dermawan yang mau memberikan tumpangan dan mengantar dia ke Bandara Nürnberg. Namun, perjalanan mereka tak sampai tuntas karena bus Dortmund yang dikawal polisi ternyata kembali untuk menjemput dia. Para pemain Dortmund pun memberikan applaus meriah ketika sang pahlawan akhirnya menaiki tangga bus.

Kemenangan atas Greuther Fürth sendiri menjadikan Dortmund meraih tiket final DFB Pokal untuk kelima kalinya. Terakhir, mereka melakukan hal serupa pada musim 2007-08. sayangnya, mereka takluk 1-2 di tangan FC Bayern München yang kebetulan menjadi lawan mereka lagi pada final musim ini. Bayern memastikan diri ke final lewat kemenangan 4-2 atas Borussia Mönchengladbach melalui drama adu penalti pada Rabu (21/3). (Sepp Ginz)

Jones Korban Persepsi Publik

15 Feb
Jermaine Jones yakin hukuman DFB atas insiden injakannya kepada Marco Reus sangat dipengaruhi persepsi publik terhadap dirinya. (Foto: www.newshopper.sulekha.com)

Jermaine Jones yakin hukuman DFB atas insiden injakannya kepada Marco Reus sangat dipengaruhi persepsi publik terhadap dirinya. (Foto: http://www.newshopper.sulekha.com)

HANYA MENONTON ketika rekan-rekan seklub berlatih keras dan berjuang mati-matian di lapangan adalah hal yang tak mengenakkan bagi siapa pun. Tak terkecuali Jermaine Jones yang masih menjalani skorsing delapan pekan karena dinilai sengaja menginjak kaki pemain Borussia Mönchengladbach, Marco Reus, Desember lalu.

Jones mengaku kesal oleh hukuman yang dijatuhkan Deutscher Fussball Bund (DFB) yang dinilai tidak proporsional. “Aku tahu perbuatan itu sangat bodoh,” kata dia kepada Der Westen. “Insiden itu terjadi di DFB Pokal. Aku bisa memahami bila mereka berkata, ‘Sepanjang musim depan, dia tak boleh bermain di DFB Pokal. Sebagai pelajaran tambahan, kami tambahkan hukuman dua atau tiga laga di Bundesliga 1.’ Tapi, tekanan dari luar sangat besar sehingga DFB memutuskan hukuman untuk semua ajang.”
 
Tekanan itu, dalam pandangan Jones, tak terlepas dari prasangka dan label
bad boy yang dilekatkan kepada dia karena tampang dan penampilan yang sangar. Menurut dia, publik menilai dirinya negatif karena tato yang menghiasi hampir sekujur tubuhnya. Padahal, kata dia, David Beckham pun menato tubuhnya.
 
Mengenai insiden dalam laga perdelapan final DFB Pokal antara Mönchengladbach dan FC Schalke 04, Jones mengaku sangat menyesalinya. “Jika bisa memutar kembali waktu, aku tak akan melakukan hal itu. Jika itu dilakukan saat berumur 20 tahun, mungkin bisa dimaklumi. Tapi, kini aku sudah berumur 30 tahun dan hal seperti itu jelas tak boleh dilakukan,” ungkap dia. (Sepp Ginz)

Ingin Berbagi, Celozzi Dikenai Sanksi

12 Feb
Gara-gara ingin memberikan tiket VIP kepada temannya di Facebook, Stefano Celozzi harus rela diturunkan ke tim VfB Stuttgart Amatir. (Foto: www.bundesliga.de)

Gara-gara ingin memberikan tiket VIP kepada temannya di Facebook, Stefano Celozzi harus rela diturunkan ke tim VfB Stuttgart Amatir. (Foto: http://www.bundesliga.de)

NIAT BAIK belum tentu berbuah baik. Sebaliknya, bisa saja menjadi bumerang yang menyerang diri sendiri. Mungkin itulah pelajaran yang bisa dipetik dari kasus yang dialami Stefano Celozzi pada tengah pekan yang baru lalu. Bek kanan VfB Stuttgart itu diturunkan ke tim Stuttgart Amatir oleh Direktur Olahraga Fredi Bobic.

Sanksi tanpa batas waktu yang pasti itu dijatuhkan Bobic karena Celozzi menawarkan tiket gratis pertandingan perempat final menghadapi FC Bayern München kepada teman-temannya di Facebook. Pertimbangannya sederhana saja, eks pemain Karlsruher SC itu tak ingin tiket yang menjadi jatahnya mubazir karena tak terpakai.

Ceritanya, untuk laga itu, Celozzi dipastikan tak berada dalam skuad. Itu artinya dia hanya akan berada di tribun. Nah, karena pada saat yang bersamaan sang pacar, Jessika, tengah sakit, Celozzi memilih untuk menemaninya. Ternyata hal itu membuat Bobic marah. Pasalnya, tiket yang ditawarkan itu adalah untuk tribun VIP yang dikhususkan bagi para pemain, istri pemain, dan pacar pemain. Keberadaan orang asing dinilai bisa menjadi ancaman bagi mereka.

Menanggapi hukuman yang dijatuhkan Stuttgart, agen Celozzi, Dirk Hebel, angkat suara. “Stefano ingin membahagiakan temannya. Dia tak berpikir hal itu akan menjadi masalah,” kata dia kepada Bild. (Sepp Ginz)

Müller Hadirkan Dilema

10 Feb
Thomas Mueller

Performa apik Thomas Müller di sisi kanan kala FC Bayern München mengalahkan VfB Stuttgart di DFB Pokal menghadirkan dilema tersendiri bagi pelatih Jupp Heynckes. (Foto: http://www.torwart.de)

PUTUSAN TEPAT dibuat Jupp Heynckes kala FC Bayern München menghadapi VfB Stuttgart di perempat final DFB Pokal, Rabu (8/2). Dia menggeser Thomas Müller ke sisi kanan dan Toni Kroos dikembalikan ke posisi nomor 10. Hasilnya, permainan Bayern sangat baik. Kombinasi Müller, Kroos, dan Franck Ribéry di belakang Mario Gomez tampil apik dan sangat merepotkan Die Schwaben. Müller bahkan menjadi pemberi assist dalam dua gol kemenangan Bayern.

Performa apik itu membuat Müller disanjung. Salah satunya oleh Ribéry. Pemain asal Prancis itu yakin Müller bermain di posisi terbaiknya pada laga itu. “Sangat sulit bagi pelatih untuk memilih antara Müller dan Robben. Tapi, Thomas bermain sangat baik di sisi kanan. Bagiku, dia lebih baik bermain di kanan,” ungkap dia kepada TZ München.

Penilaian Ribéry sama persis dengan hasil pengamatan whoscored.com. Faktanya, dari tiga posisi yang pernah diisi, nilai Müller lebih tinggi jika bermain di kanan. Dari 15 kali bermain di sana, Müller meraih nilai rata-rata 7,29. Sementara itu, kala menjadi sebagai gelandang tengah, nilai rata-ratanya turun ke 7,05. Lalu, di sisi kiri, nilainya jauh lebih jelek, yakni 6,05.

Fakta itu tentu menjadi dilema tersendiri bagi Heynckes yang selama ini sangat mengandalkan aksi-aski brilian Robben di sisi kanan. Sangat tidak mungkin bagi dia untuk terus menaruh winger asal Belanda itu di bangku cadangan. Dan dilema itu akan jadi makin besar pada musim depan karena bayern dipastikan mendapatkan gelandang kanan Xherdan Shaqiri dari FC Basel. (Sepp Ginz)