Archive | Piala Dunia RSS feed for this section

>Völler Minta Perubahan Jadwal Kompetisi

11 Jan

>SEBUAH IDE MENARIK dilontarkan Direktur Olahraga Bayer 04 Leverkusen Rudi Völler. Dia mengusulkan perubahan kalender kompetisi Bundesliga 1. Jika biasanya kompetisi diputar dari Agustus hingga Mei, Völler meminta pergeseran menjadi Februari hingga akhir November.

Tentu usulan itu bukan tanpa alasan. Völler menilai penyesuaian kalender kompetisi itu perlu dilakukan sebagai antisipasi terhadap Piala Dunia 2022 di Qatar yang kemungkinan digelar pada musim dingin, yakni sekitar Januari 2022. Hal itu diungkapkannya dalam wawancara dengan Bonner Generalanzeiger dan Kölner Rundschau.

“Mari kita mencoba bermain sesuai kalender tahun. Itu perlu dipikirkan. Qatar merupakan sebuah kesempatan,” ungkap Völler. “Piala Dunia sudah pasti digelar di sana. Kita tentu harus bersiap sebaik mungkin dan ini mungkin menjadi satu-satunya cara. Piala Dunia harus digelar pada musim dingin. Itu artinya kita harus mempertimbangkan perubahan waktu kompetisi. Misalnya dari Februari hingga akhir November.”

Menurut eks striker dan pelatih timnas Jerman itu, perubahan kalender kompetisi bukan ide radikal dan tak akan menjadi beban berat karena waktu penyesuaian yang sangat banyak. “Ingat, Piala Dunia-nya bukan tiga tahun lagi, melainkan sebelas tahun ke depan,” terang dia.

Sejak Qatar dinyatakan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, polemik soal waktu penyelenggaraan memang menyeruak. Jika digelar seperti biasanya, yakni pada musim panas antara Juni-Juli, dikhawatirkan bakal menyiksa para pemain dan fans. Maklum, pada musim panas, suhu udara di Qatar sangat tinggi. Sebagai solusi, Franz Beckenbauer mengusulkan penyelenggaraan digeser ke Januari-Februari saat cuaca lebih bersahabat. Presiden FIFA Sepp Blatter tak menutup opsi tersebut. (Sepp Ginz)

Advertisements

>This is God’s Ballboy

14 Jul

>Gile bener…. Ballboy-nya Maradona memang ciamik. Bisa bikin El Diego pusing tujuh keliling. Wakakakakakakakaka!http://www.youtube.com/get_player

>Lelaki Pengharum Negeri

1 Jul

>
LELAKI itu tak berbeda dengan orang Afrika Selatan kebanyakan. Kulitnya legam, pekerja biasa di sebuah departemen, dan sederhana. Satu hal yang membedakannya saat berada di stadion adalah dandanan yang mencolok. Makarapa hijau dan replika trofi Piala Dunia selalu menemaninya. Tak lupa vuvuzela kuning yang kerap ditiupnya saat pertandingan berlangsung.

Thulani Ngcobo, itulah nama lelaki tersebut. Dia adalah penggila sepak bola asal Soshanguve, Tshwane. Piala Dunia 2010 merupakan momen spesial bagi dia. Meski Afrika Selatan, negerinya, sudah tersingkir di penyisihan grup, Thulani masih bisa tertawa dan menepuk dada sambil berteriak lantang laiknya sang juara.

Bila tak ada aral melintang, saat partai final dilangsungkan di Stadion Soccer City, 11 Juli mendatang, Thulani akan menorehkan rekor baru sebagai orang yang paling sering menonton laga Piala Dunia. Rencananya, laga itu akan menjadi yang ke-38 yang disaksikannya secara langsung dalam satu Piala Dunia.

Saat ditemui di Soccer City pada laga Argentina vs Korea Selatan, 17 Juni lalu, Thulani dengan antusias menjelaskan torehan sejarah yang akan dibukukanya. “Saya ditargetkan menonton 38 laga oleh sponsor. Itu untuk melewati rekor lama yang tercatat di Guinness World Records, yakni 20 laga,” ungkap dia.

Guna mewujudkan hal tersebut, Thulani harus melakoni perjalanan maraton dari satu stadion ke stadion lain. Saat penyisihan grup, Thulani setidaknya harus berada di dua stadion setiap harinya. “Setiap hari, saya harus menonton dua pertandingan. Setelah ini (dari Soccer City, Red.), saya harus menempuh perjalanan ke Polokwane untuk menonton Prancis vs Meksiko,” terang dia lagi.

Itu jelas tidak mudah. Thulani harus mengurangi jam tidurnya. Dia sebisa mungkin harus memanfaatkan waktu di perjalanan untuk beristirahat agar kondisi tubuhnya tidak drop. Selain itu, dia juga mengonsumsi pelbagai vitamin.

“Aku memang terlihat segar, tapi sebenarnya lelah juga. Rasa lelah itu baru sirna ketika aku masuk ke stadion, berbaur dengan para suporter, menari, dan bernyanyi sepanjang pertandingan,” beber pria yang mengaku sebagai fans fanatik Kaizer Chiefs itu.

TAK TERNILAI

Jika nanti berhasil membukukan rekor baru, Thulani tak akan mendapatkan sepeser uang pun dari pihak yang mensponsorinya. Upahnya adalah paket perjalanan dan tiket menonton 38 laga. Itu luar biasa mengingat dirinya semula hanya menganggarkan 2.000 rand (sekitar Rp2,4 juta) untuk menonton Piala Dunia.

Itu tak membuatnya kecewa. Bagi Thulani, ada hal lain yang membuatnya puas. “Pertama, aku bisa menyalurkan hobiku menonton sepak bola. Kedua, aku bisa bertemu banyak orang dari banyak negara. Ketiga, tentu saja bisa mengharumkan negeriku,” kata dia. “Itu membuatku sangat senang.”

Khusus pertemuan dengan para penggila sepak bola dari pelbagai negeri membuat Thulani sangat terkesan. Maklum, banyak tingkah unik yang dilakukan mereka. Tak sedikit yang mengajak dia berfoto bersama atau memberi cindera mata khas seperti bendera negara atau lainnya. Dia pun terkejut ketika mengetahui SOCCER berasal dari Indonesia. “Indonesia? Jauh sekali, ya?” kata dia.

Thulani pun tak terpilih begitu saja. Dia harus melalui kompetisi yang berat dengan menyisihkan para fans fanatik lainnya. Pada putaran final yang dilangsungkan di SABC pada 24 Oktober 2009, dia menyisihkan tujuh finalis dengan menjadi yang terbaik dalam menjawab 40 pertanyaan menyangkut trivia sepak bola yang diajukan panitia.

Kegilaan Thulani terhadap sepak bola sudah muncul sejak kecil. Dia tercatat menonton langsung 90 persen pertandingan yang dilakoni Kaizer Chiefs sejak dirinya berumur delapan tahun. Itu sebabnya, dia tak ragu menyebut stadion adalah rumah keduanya.

Lalu, bagaimana perasaannya ketika rekor menonton 38 laga secara maraton ditorehkan pada 11 Juli mendatang? “Itu ibarat merebut Piala Dunia!” jawab dia dengan singkat. “Untuk itu, saya akan berusaha keras. Tak akan ada rintangan yang sanggup menggagalkan saya mewujudkan hal tersebut!” (Sepp Ginz)

Artikel ini dipublikasikan di SOCCER Edisi 01/XI, 3 Juli 2010, Hal. 14

>Pelajaran dari Bloemfontein

29 Jun

>
Pembalasan sempurna atas insiden Wembley-Tor. Itulah topik yang mengemuka seusai laga Jerman versus Inggris, Minggu (27/6). Jerman menang 4-1 dengan insiden tendangan keras Frank Lampard yang membentur mistar dan memantul di belakang garis gawang tak disahkan sebagai gol oleh wasit Jorge Larrionda asal Uruguay.

“Andai saja itu disahkan menjadi gol, hasilnya pasti berbeda.” Itulah kata-kata yang kerap terdengar dari para pencinta The Three Lions. Sedangkan para penggemar Der Panzer selalu berkata, “Jikapun disahkan, toh hasilnya 4-2. Ingat, Jerman bermain lebih baik ketimbang Inggris.”

Belakangan, latar belakang Larrionda ikut diungkit-ungkit. Masa lalunya yang diwarnai skorsing enam bulan pada 2002 gara-gara tersangkut kasus suap diangkat ke permukaan. Integritasnya sebagai wasit dipertanyakan. Orang-orang Inggris berkata, “Bagaimana bisa wasit dengan latar belakang seperti itu dibiarkan memimpin sebuah laga klasik?”

Sepertinya kontroversi itu tak akan habis dibahas hingga beberapa hari ke depan. Lalu, pastinya, hal itu bakal diungkit lagi setiap kali Jerman bertemu Inggris di pentas apa pun. Persis seperti Wembley-Tor di final Piala Dunia 1966.

Padahal, kekalahan itu bukanlah sebuah kejutan. Dia sudah teramalkan sebelumnya begitu melihat Inggris hanya finis sebagai runner-up di penyisihan Grup C dengan bermain imbang saat menghadapi anak bawang Alzajair sebagai salah satu prestasinya.

Lain dari itu, sinyal keunggulan Jerman atas Inggris sudah terlihat di belahan Eropa beberapa saat sebelum kick off dilakukan. Di Valencia Street Circuit, Sebastian Vettel dari Jerman memenangi Grand Prix F1 Eropa. Dia mengangkangi dua pembalap Inggris, Lewis Hamilton dan Jenson Button, yang finis di urutan kedua dan ketiga.

Terlepas dari kontroversi yang bergulir gara-gara insiden Anti-Wembley-Tor Lampard, kemenangan Jerman kali ini punya makna lain. Itu merupakan kemenangan Bundesliga atas Premier League. Laga di Stadion Manguang, Bloemfontein adalah cermin yang begitu nyata akan inferioritas Premier League terhadap Bundesliga.

Inggris adalah cermin Premier League. Total 23 pemain yang dipanggil Capello berasal dari sembilan klub Premier League. Sementara Jerman adalah representasi nyata Bundesliga. Seluruh penggawa di skuad Joachim Loew berasal dari delapan klub Bundesliga.

Menariknya, hampir seluruh pemain Inggris adalah penyandang nama besar dan dilabeli bintang dunia. Ada John Terry, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Wayne Rooney yang menurut situs transfermarkt.de berbanderol di atas 30 juta euro. Bandingkan dengan Der Panzer yang pemain termahalnya hanya berbanderol 27,5 juta euro.

Akan tetapi, di lapangan, para pemain murah dari Bundesliga ternyata lebih apik dalam mengolah si kulit bulat. Lahm cs paham betul bagaimana menerapkan instruksi pelatih dengan baik. Mereka bergerak sebagai sebuah kesatuan dengan aksi-aksi individu sebagai garnis.

Itu berbeda dengan Gerrard cs. yang tampil awut-awutan. Koordinasi antarlini sangat lemah, inisiatif terlalu minim, dan orientasi permainan pun tak menentu. Mereka seolah baru pertama kali bermain bola secara bersama-sama. Mereka hanya bisa menguasai bola lebih lama dan melepaskan lebih banyak tembakan, namun tanpa efektivitas.

Sebelum laga berlangsung, Inggris sudah sibuk mengurusi adu penalti. Mereka termakan provokasi Miroslav Klose yang dilancarkan pada awal kompetisi. Kiper David James sampai-sampai meminta dijadikan salah satu eksekutor bila tos-tosan terjadi. Mereka sibuk membuang trauma tanpa memikirkan cara efektif melumpuhkan Louis-van-Loew-Fussball.

Capello sebagai pelatih seolah tak mampu membaca tanda-tanda yang tersuguhkan sepanjang musim kompetisi 2008-09. Andai jeli, dia seharusnya melakukan pembenahan serius di tubuh The Three Lions ketika Manchester United, simbol dominasi Premier League, disingkirkan Bayern Muenchen di perempatfinal Liga Champions.

Bukan hanya Capello yang terlena. Publik sepak bola Inggris pun setali tiga uang. Mereka tak mengindahkan laporan yang dirilis Deloitte pada 8 Juni, tiga hari sebelum Piala Dunia dimulai. Dalam laporannya, Deloitte jelas-jelas menyebut Bundesliga sebagai liga dengan keuntungan terbesar, mencapai 146 juta pounds. Jumlah itu nyaris dua kali lipat dari keuntungan Premier League yang hanya mencapai 75 juta pounds.

Seperti halnya Gerrard cs yang begitu royal melepas tembakan tanpa akurasi, penyebab utama tersalipnya Premier League oleh Bundesliga juga karena sikap royal klub-klub Inggris. Menurut Deloitte, pendapatan kotor klub-klub Premier League sebenarnya tetap besar. Namun, jumlah pendapatan itu anjlok ketika dikurangi beban gaji pemain. Pasalnya, 67 persen dari pendapatan itu lari ke pembayaran gaji pemain. Sementara di Bundesliga, beban gaji itu hanya 51 persen dari seluruh pendapatan.

Seharusnya pelbagai sinyal negatif itulah yang kini dipersoalkan publik sepak bola Inggris. Itu lebih krusial ketimbang terus menggugat putusan keliru Larrionda. Sekeras apa pun hujatan dikeluarkan, hasil pertandingan tak bisa diubah. Biarlah dia menjadi sebuah sejarah, tak perlu menjadi hantu seperti trauma adu penalti dan Gol Tangan Tuhan.

Kekalahan di Bloemfontein itu pun harusnya menjadi pelajaran berharga bagi para petinggi Football Association (FA). Akan sangat naif jika mereka melengserkan Capello seperti yang dilakukan terhadap para pelatih terdahulu yang didepak ketika misi pertamanya gagal. FA harus belajar dari Jerman. Deutscher Fussball Bund (DFB) tak lantas melengserkan Loew ketika Die Natinalmannschaft gagal di Euro 2008. Saat posisi mereka rawan gara-gara kekalahan dari Serbia di penyisihan Grup D pun, Loew tetap dibela.

Lalu, Loew juga tak malu meniru style sepak bola Louis van Gaal yang berasal dari Belanda, musuh besar Jerman di kancah sepak bola. Langkah ini kiranya perlu ditiru pelatih Inggris. Dia harus menginstal style baru kepada Gerrard cs, tak fanatik pada kick and rush seperti yang dituduhkan Franz Beckenbauer. (Sepp Ginz)

>Sepak Bola Ala Louis van Loew

25 Jun

>
Ada sesuatu yang berbeda pada permainan Jerman di Piala Dunia kali ini. Philipp Lahm cs lebih berani memainkan bola dari kaki ke kaki. Mereka tak terburu-buru menusuk pertahanan lawan. Ball possession menjadi ruh permainan.

Bagi Jerman, gaya main ini terbilang baru. Sebelumnya, Der Panzer dikenal kental mengusung sepak bola efektif. Kini, Jerman percaya diri meniru gaya main negeri tetangga sekaligus rival abadinya, Belanda.

Perubahan itu terjadi sejak Jerman kedatangan maestro sepak bola asal Belanda, Louis van Gaal, yang menjadi pelatih Bayern Muenchen mulai awal musim 2009-10. Keberhasilannya menerapkan filosofi permainan indah di Bayern membuka mata para pelatih negeri itu bahwa Jerman bisa bermain laiknya Belanda dan tetap sukses memboyong piala.

Salah satu pelatih yang terpengaruh oleh Van Gaal adalah Joachim Loew. Secara kebetulan, pelatih timnas Jerman itu memang sangat mengagumi sosok Van Gaal. “Saya sangat menghormati Van Gaal dan selalu ingin mengikuti jejaknya. Idenya memainkan sepak bola ofensif yang dipadukan dengan kedisiplinan sungguh luar biasa,” ucap dia kepada TZ Muenchen pada Agustus 2009.

Loew memang tak pernah terang-terangan ingin memakai style Van Gaal ke timnas Jerman. Namun, kentalnya aroma Bayern di skuad Piala Dunia adalah fakta yang tak bisa dimungkiri akan kekagumannya terhadap Van Gaal. Sudah begitu, dia pun tak ragu merekrut Holger Badstuber dan Thomas Mueller, dua “anak emas” Van Gaal di Bayern. Lalu, Loew juga menempatkan Lahm di sisi kanan dan Schweinsteiger di jantung lini tengah, peran yang dilakoni keduanya di bawah Van Gaal.

Saat disinggung soal kemiripan permainan Der Panzer dengan Bayern sesaat setelah Jerman menekuk Australia pada laga pertama, Loew juga tak membantah. Namun, menurut dia, Jerman tetap bukan Bayern. “Kami tak punya pemain sayap sehebat Arjen Robben dan Franck Ribery,” kilah dia.

Sikap yang sama ditunjukkan Mueller. “Ini bukan sepak bola Louis van Gaal, melainkan sepak bola ala Louis van Loew,” ujar dia.

Jika dicermati, Bayern dan Jerman sangat mirip. Keduanya tak punya kiper dan bek tengah mumpuni. Lalu, striker yang ada pun tidak luar biasa. Kekuatan Bayern dan Jerman sama-sama terletak di lapangan tengah yang dihuni banyak pemain istimewa. Mungkin atas dasar kesamaan inilah Loew lantas melirik style Bayern ke timnya.

Terlepas dari keidentikan yang ada, Jerman tetap tak kehilangan identitas utamanya, yakni ketangguhan mental. Itu terlihat ketika mereka mampu melewati fase kritis di penyisihan grup dengan menang 1-0 atas Ghana dan memastikan diri tampil sebagai juara grup.

“Tim ini tetap memiliki mentalitas Jerman. Salah satunya, mereka selalu bisa menuai kemenangan pada laga menentukan,” ulas pelatih kawakan Winfried Schaefer.

Schaefer tak keliru. Kesuksesan mengalahkan Ghana pada laga menentukan membuat Jogis Jungs –sebutan media massa Jerman bagi skuad Loew yang didominasi pemain muda– menyamai prestasi delapan panser terdahulu yang juga mampu lolos dari penyisihan grup setelah berada pada posisi kritis.

Mentalitas itu pertama kali terlihat pada Piala Dunia 1954. Sempat dibantai 3-8 oleh Hungaria pada laga kedua penyisihan grup, Jerman (Barat) bangkit pada laga play off dengan menekuk Turki dengan skor 7-2. Empat tahun kemudian di Swedia 1958, Der Panzer lolos sebagai pemuncak grup lewat hasil imbang 2-2 dengan Irlandia Utara pada laga penentuan setelah sebelumnya berada di ujung tanduk gara-gara ditahan Cekoslowakia.

Gen itu terus diwariskan dari masa ke masa. Kekalahan dan hasil minor di fase grup tak pernah membuat Jerman terpuruk. Kekalahan 0-1 dari Jerman Timur menjadi pemicu ke tangga juara pada 1974. Lalu, kekalahan dari Alzajair pada 1982 dan Denmark pada 1986 tak mampu mencegah Der Panzer ke partai puncak.

Pertanyaannya kemudian, mampukah paduan ball possession plus mentalitas kuat ala sepak bola Louis van Loew membawa Jerman sukses di Afsel 2010? Itulah yang patut ditunggu. Pasalnya, Der Panzer tak pernah mampu menekuk tim besar dalam tiga tahun terakhir. Tiga kesempatan terakhir selalu berakhir kekalahan. Pada 2008, mereka kalah 1-2 dari Inggris dan 0-1 dari Spanyol. Lalu, Maret silam, Jerman juga takluk 0-1 dari Argentina.

Fakta itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Loew. Bukan apa-apa, Jerman dipastikan bertemu Inggris di babak 16-besar. Lalu, kalau lolos, Lahm dkk potensial bertemu Argentina di perempatfinal. Sebuah ujian sekaligus ajang penahbisan yang sangat berat bagi sepak bola ala Louis van Loew. (Sepp Ginz)

>Kemenangan Sembilan Negeri

15 Jun

>
Perfekt! Itulah kata yang pas untuk menggambarkan keberhasilan Jerman menekuk Australia dengan empat gol tanpa balas. Itu adalah kali ketujuh Der Panzer memulai Piala Dunia dengan mencetak empat gol atau lebih.

Berkat empat gol ke gawang Australia itu, target semifinal seperti yang diungkapkan kapten Philipp Lahm kian terbuka. Bukan apa-apa, dalam enam kesempatan memulai Piala Dunia dengan mencetak empat gol atau lebih, Jerman selalu menembus tiga besar. Terkesan superstitious memang. Tapi, dalam beberapa kesempatan, catatan statistik seringkali jitu menjadi dasar prediksi.

Lalu, mampukah Der Panzer merebut gelar keempat seperti di Swiss ’54 ketika mereka menekuk Turki 4-1 dan di Italia ’90 saat Yugoslavia dibungkam juga dengan skor 4-1? Kiranya kurang relevan membahas hal itu. Perjalanan masihlah jauh. Lain dari itu, ada makna lain yang lebih menarik untuk diungkap.

Kemenangan atas Australia memang milik publik sepak bola Jerman. Namun, jika ditelisik lebih jauh, kemenangan itu juga milik delapan negeri lain. Lho, kok bisa?

Skuad Jerman saat ini memiliki pluralitas yang kompleks. Sebelas dari 23 pemain yang dipanggil pelatih Joachim Loew bukan Aria murni. Lukas Podolski, Miroslav Klose, dan Piotr Trochowski berdarah Polandia. Serdar Tasci dan Mesut Oezil keturunan Turki. Dennis Aogo keturunan Nigeria. Jerome Boateng berdarah Ghana. Mario Gomez adalah anak imigran Spanyol. Sami Khedira keturunan Tunisia. Sedangkan Cacau berasal dari Brasil. Lalu, Marko Marin sebelumnya memegang paspor Bosnia-Herzegovina.

Mereka bukanlah pelengkap. Oezil, Khedira, Podolski, dan Klose ada di starting line up. Sementara Cacau, Marin, dan Gomez bangkit dari bangku cadangan. Bahkan, tiga dari empat gol terlahir dari pemain “asing”, yakni dari sepakan Podolski, sundulan Klose, dan tendangan Cacau.

Keragaman di timnas Jerman ini tentu tak pernah terpikirkan pada beberapa dekade silam. Apalagi jika kita mengingat kekejaman rezim NAZI terhadap etnis tertentu pada Perang Dunia II. Paham chauvinisme akut yang dianut Adolf Hitler menjadi cap dan bayang-bayang kelam yang sulit dihilangkan.

Itu pula yang dirasakan Erwin Kostedde dan Jimmy Hartwig, dua pionir kulit hitam di Der Panzer pada 1970-an. Mereka merasakan barrier yang sangat lebar dengan fans. Itu pula yang membuat kiprah mereka di timnas sangat singkat. Baru pada dekade 2000-an pluralisme berkembang pesat di Der Panzer. Bukan hanya para kulit hitam macam Gerald Asamoah dan Patrick Owomoyela, melainkan juga latino Paulo Roberto Rink dan etnis Eropa lain macam Klose dan Podolski yang menjadi tonggak-tonggaknya.

Dalam pandangan Cacau, keberagaman etnis di timnas Jerman tak terlepas dari sikap bangsa Jerman sendiri yang saat ini jauh lebih terbuka. “Jerman sangat terbuka dalam proses integrasi para imigran dari negara-negara lain. Negeri ini membuka peluang bagi siapa saja untuk bekerja dan hidup, bukan hanya di sepak bola,” terang dia.

Lebih lanjut, Cacau menilai multikulturalisme adalah tren yang sedang berlangsung di Jerman. “Saat ini, Jerman telah menjadi negeri multikultural. Tren di timnas adalah refleksi dari hal tersebut,” tambah dia.

Tren itu kian menguat setelah Jerman U-21 yang separuh penggawanya imigran menjuarai Piala Eropa pada 2009. Manajer Timnas Jerman Oliver Bierhoff menilai kesuksesan tersebut sebagai keberhasilan integrasi pelbagai karakter di sepak bola.

“Sangat menyenangkan melihat para imigran menunjukkan dirinya sebagai bangsa Jerman,” ungkap Bierhoff. “Timnas Jerman sangat terbuka bagi mereka.”

Keberagaman tersebut kian menghilangkan sekat-sekat yang ada di sepak bola. Tak bisa disangkal, keberadaan Poldi, Klose, Cacau, hingga trio muslim Khedira-Tasci-Oezil adalah bentuk kesuksesan Jerman dalam mewujudkan kampanye antirasial di sepak bola.

Selama bertahun-tahun, Deutscher Fussball Bund (DFB) dan Deutscher Fussball Liga (DFL) mengusung pelbagai tajuk. Salah satunya kampanye Meine Fruend ist Auslaendar alias “Temanku adalah pemain asing”. Kini, bukan hanya menjadi freund, para auslaender itu telah menjadi bruder alias “saudara.”

Melihat fakta tersebut, Dennis Aogo, bek kiri timnas U-21 yang kini berada di skuad Loew pun dengan lantang berseru, “Ini adalah pesan bagi siapa pun dan di mana pun bahwa kita bisa hidup berdampingan dan meraih kesuksesan bersama-sama!”

Jika nanti Der Panzer berhasil meraih mimpi menggapai bintang keempat untuk ditaruh di atas emblem di kostum, kesuksesan itu akan dikenang sepanjang masa. Berbeda dengan keberhasilan pada 1954, 1974, dan 1990, keberhasilan nanti akan menjadi lambang kemenangan multikulturalisme Jerman. (Sepp Ginz)

>Piala Dunia Tak Butuh Bintang

12 Jun

>
Tinggal hitungan jam, pesta akbar sepak bola empat tahunan bertajuk Piala Dunia akan resmi dibuka. Dalam beberapa jam itu pula, tanda tanya terus menggantung. Akankah guliran bola pertama di Stadion Soccer City sanggup menghentikan gelombang cedera pemain yang seolah tiada henti?

Publik sepak bola dunia dipastikan berharap gelombang itu berakhir. Sudah bosan rasanya melihat dan mendengar bintang-bintang berjatuhan. Setelah David Beckham, Michael Essien, Michael Ballack, dan John Obi Mikel, semoga Nani adalah korban terakhir. Apa jadinya jika event akbar yang sejatinya diikuti pemain-pemain terbaik justru kehilangan banyak bintangnya?

Cedera memang menjadi fenomena tersendiri di Afsel 2010. Jelang laga pertama yang akan dilakoni 32 tim peserta, nasib beberapa bintang belum benderang. Arjen Robben (Belanda), Andrea Pirlo (Italia), Didier Drogba (Pantai Gading), Alexander Frei (Swiss), dan Humberto Suazo (Cile) adalah beberapa di antaranya. Mereka terancam tak bisa tampil pada laga pembuka, bahkan ada yang terancam tak tampil dalam semua laga penyisihan grup.

Untung saja hantu cedera tak berani mendekati anak-anak emas sepak bola yang menjadi bintang utama. Kondisi Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Wayne Rooney sangat fit untuk menggemakan Piala Dunia. Bisa dibayangkan bila salah satu atau beberapa di antara mereka mengalami nasib nahas seperti halnya Beckham dan Ballack.

Terlepas dari itu, Piala Dunia sebenarnya tak pernah tergantung pada bintang-bintang. Catatan sejarah membuktikan, Piala Dunia tak pernah kehabisan bintang. Piala Dunia tak pernah kehilangan Alfredo di Stefano, George Best, Artur Friedenreich, dan Eric Cantona karena event akbar ini selalu sanggup melahirkan bintang-bintang kejutan. Tak percaya? Simak saja langkah Guillermo Stabile (1930), Just Fontaine (1958), dan Salvatore Schilacci (1990).

Pada Piala Dunia 1930, Stabile bukanlah striker utama di timnas Argentina. Dia hanya back-up bagi Roberto Cherro. Dia tak ada di line-up saat Tim Tango menekuk Prancis 1-0. Dia baru tampil pada laga kedua saat menghadapi Meksiko. Itu terjadi setelah Cherro memutuskan pulang ke Argentina karena kecemasan yang berlebihan akibat teror pendukung tuan rumah, Uruguay.

Tak dinyana, Stabile mencorong. Dalam empat laga, dia tak absen mencetak gol. Tiga dilesakkan ke gawang Meksiko, dua ke gawang Cile, dua ke gawang Amerika Serikat, dan satu ke gawang Uruguay. Torehan delapan gol membuatnya menjadi top skorer.

Cerita yang hampir sama dialami Schilacci di Italia 1990. Sama seperti Stabile, dia bukan penyerang utama. Pelatih Italia, Azeglio Vicini, lebih mengutamakan Andrea Carnevale dan Gianluca Vialli. Schilacci hanyalah pemain cadangan. Tapi, status itu tak mampu membendung takdir untuk menjadi bintang. Diawali gol ke gawang Austria pada laga pembuka ketika masuk menggantikan Carnevale, Schilacci tak tertahankan untuk merebut sepatu emas pada pengujung turnamen.

Kisah lebih dramtis dialami Fontaine di Swedia 1958. Penyerang Stade de Reims itu sejatinya bukanlah anggota skuad Prancis. Dia baru masuk setelah Rene Bliard, rekan seklubnya yang menjadi andalan lini depan Les Bleus, mendapat cedera engkel saat berlatih. Hebatnya, Fontaine lantas merajalela dengan mencetak 13 gol, raihan tertinggi seorang pemain di satu Piala Dunia.

Uniknya lagi, Fontaine yang berdarah Maroko menjejalkan 13 gol itu bukan dengan sepatunya sendiri. Di sepanjang turnamen, dia tampil dengan sepatu yang dipinjam dari striker cadangan Les Bleus, Stephane Bruey.

Kini, ketika Piala Dunia untuk kali pertama dihelat di tanah Afrika yang sarat mitos dan misteri, fenomena serupa sangat mungkin terulang. Siapa tahu ketiadaan Essien adalah jalan bagi Kevin Prince Boateng. Lalu, jangan-jangan cedera Ballack adalah awal karier emas Sami Khedira. Albert Bunjaku bisa saja mencuat di tengah cedera yang menghantam Frei. Sementara Lucas Barrios yang diabaikan Diego Maradona, pelatih Argentina, sangat mungkin menjadi pahlawan Paraguay.

Rasanya, hanya kejutan-kejutan seperti itu yang akan membayar lunas kekecewaan kita atas ketidakhadiran beberapa pemain hebat di Piala Dunia kali ini. Di tengah bintang-bintang yang tak lagi benderang, kejutan adalah komet yang akan membuat mata tak bisa dipicingkan dan kita akan tetap menebar pandangan ke segenap penjuru lapangan. (Sepp Ginz)