Tag Archives: Markus Babbel

Kemunduran Kedua Wiese?

5 Jan
Setelah digeser Koen Casteels, Tim Wiese terancam kehilangan ban kapten. (Foto: www.welt.de)

Setelah digeser Koen Casteels, Tim Wiese terancam kehilangan ban kapten. (Foto: http://www.welt.de)

PERGANTIAN PELATIH selalu menumbuhkan harapan baru bagi para pemain yang tersisih atau jarang dimainkan. Namun, belum apa-apa, Tim Wiese harus mengubur harapan kembali menjadi kiper nomor satu di TSG 1899 Hoffenheim. Marco Kurz, pelatih anyar Hoffe, menegaskan tak ada perlakuan istimewa bagi eks kiper 1.FC Kaiserslautern dan SV Werder Bremen tersebut. Menurut dia, Wiese harus bersaing keras dengan Koen Casteels yang dijadikan kiper utama oleh Markus Babbel dalam beberapa laga sebelum pemecatan menghampirinya.

Alih-alih sinyal kebangkitan, Wiese justru mendapatkan sinyal kemunduran berikutnya. Ban kapten yang disandang sejak awal musim terancam lepas. “Apakah Tim akan tetap sebagai kapten? Saya tak bisa menjawabnya. Dia memang memiliki sangat banyak pengalaman. Tapi, dia harus berjuang mendapatkan tempatnya,” ujar Kurz kepada Spox.com.

Posisi Wiese dalam mempertahankan ban kapten terbilang sulit. Pasalnya, performanya di bawah mistar tidaklah bagus. Bahkan, sebagian fans menuding dia sebagai penyebab keterpurukan Hoffe karena terlalu sering kebobolan. Sudah begitu, Kurz punya kecenderungan memilih pemain nonkiper sebagai kapten.

Meski demikian, bukan berarti peluang Wiese sudah habis. Andai bisa meraih kepercayaan dari rekan-rekan setim, dia sangat mungkin tetap menjadi kapten. Pasalnya, penunjukan kapten tidak dilakukan begitu saja. “Para pemain akan memilih komite tim. Selanjutnya, pelatih akan menentukan kapten (dari komite itu, -Red.),” jelas Kurz lagi. (@SeppGinz)

Advertisements

Simpati Babbel untuk Skibbe

15 Feb
Pemecatan yang dialami hanya setelah lima laga memimpin Hertha BSC Berlin menjadikan Michael Skibbe pelatih terburuk pada era 2000-an. (Foto: www.bz-berlin.de)

Pemecatan yang dialami hanya setelah lima laga memimpin Hertha BSC Berlin menjadikan Michael Skibbe pelatih terburuk pada era 2000-an. (Foto: http://www.bz-berlin.de)

SIMPATI MENDALAM disampaikan pelatih TSG 1899 Hoffenheim, Markus Babbel, kepada Michael Skibbe yang dipecat hanya setelah lima laga mendampingi Hertha BSC Berlin. Maklum, dia juga pernah merasakan hal serupa. Pada Desember lalu, Babbel memang didepak oleh Hertha gara-gara tak segera menyetujui perpanjangan kontrak. “Saya ikut prihatin atas hal yang dialami Michael. Bagaimanapun, Hertha tetap ada di hati saya. Ada banyak orang baik di sana dan kami pernah meraih sukses,” urai Babbel kepada Bild.
 
Skibbe memang patut dikasihani. Maklum, dengan rekor kekalahan dalam lima laga yang dilakoni, dia menjadi pelatih dengan rekor terburuk era 2000-an. Dia lebih buruk dari Christoph Daum yang pada musim lalu menuai tiga hasil imbang dan empat kali kalah dalam tujuh laga memimpin Eintracht Frankfurt.
 
Skibbe pribadi masih tak habis pikir atas pemecatan yang dialaminya. “Hanya bertugas selama 41 hari jelas rekor negatif dalam karier saya,” ungkap dia. “Selama 20 hari pertama dan pemusatan latihan, semuanya tampak sempurna dan tak ada tanda-tanda kami akan seperti ini.”
 
Lebih jauh, eks asisten Rudi Völler saat menukangi timnas Jerman itu memendam keyakinan kondisi Die Alte Dame akan jauh lebih baik andai dia diberi waktu lebih panjang lagi. Namun, Manajer Michael Preetz tak bisa lagi bersabar dan memilih mendepaknya dengan kompensasi 500 ribu euro. Hertha pun kini untuk sementara ditukangi pelatih tim U-19, Rene Tretschok, yang dibantu pelatih U-15, Ante Covic. (Sepp Ginz)

Misi Besar Babbel

10 Feb

RUMOR ITU akhirnya terbukti. Seperti diembuskan beberapa media massa Jerman sesaat setelah Holger Stanislawski dipecat, pelatih baru TSG 1899 Hoffenheim adalah Markus Babbel. Jumat (10/2), dia bersama asistennya, Rainer Widmayer, menandatangani kontrak hingga 2014.

Tugas Babbel jelas tak mudah. Sebagai pelatih baru, dia hanya punya waktu satu hari untuk mempersiapkan timnya menghadapi laga melawan SV Werder Bremen. Pelatih yang didepak dari Hertha BSC Berlin pada medio Desember itu pun tahu persis tantangan tersebut. Makanya, dia tak muluk-muluk. “Saya berharap bisa memberikan pengaruh positif kepada tim dalam waktu singkat pada partai menghadapi Bremen,” terang dia seperti dikutip Spox.com.

Bukan itu saja. Eks pemain timnas Jerman tersebut juga menghadapi dua tantangan lain. Pertama, merebut hati para fans Hoffenheim yang kadung mencintai Stanislawski. Kedua, dia pun harus menyiapkan strategi khusus untuk menjalin hubungan baik dengan pemegang saham utama, Dietmar Hopp, yang menaruh harapan tinggi.

“Saya berharap pelatih baru bisa mengubah keadaan dan membebaskan pikiran para pemain sehingga TSG bisa kembali tenang,” kata Hopp yang mengaku sangat prihatin atas pemecatan yang harus dialami Stanislawski.

Menanggapi hal itu, Babbel sudah menyiapkan satu strategi. “Saya menghormati Dietmar Hopp. Tapi, saya tak takut kepada dia,” tegas dia. “Saya akan coba melakukan komunikasi secara intensif dan teratur dengan dia.” (Sepp Ginz)

Skibbe Tak Merasa Gagal

8 Feb
Michael Skibbe

Meski gagal mempersembahkan poin dalam tiga laga awal, Michael Skibeb tak merasa ada masalah besar di Hertha BSC Berlin. (Foto: http://www.torwart.de)

TIGA KALI menelan kekalahan dari tiga laga yang dilakoni tak membuat Michael Skibbe merasa gagal dan menyesali putusannya menerima pinangan Hertha BSC Berlin untuk menggantikan posisi Markus Babbel. Dia yakin torehan hasil buruk itu hanyalah awal dari proses yang akan berbuah manis.

“Saya tak pernah menyesali putusan ini. Sebaliknya, saya sangat senang bisa berada di Berlin dan melatih Hertha. Pekerjaan ini sangat menantang bagi saya,” kata Skibbe dalam wawancara dengan BZ Berlin. “Saya sangat yakin pada akhirnya kami akan memperlihatkan kelas yang sesungguhnya.”

Lebih jauh, eks pelatih Borussia Dortmund dan Bayer Leverkusen itu yakin tak ada masalah besar yang ada di klub berjuluk Die Alte Dame tersebut. Menurut dia, kondisi tim sangat baik. Tak terkecuali kekuatan tim yang tetap bagus meski tanpa penambahan pemain baru. Skibbe yakin, mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk bangkit.

“Saya ini orang yang berpandangan positif. Saya selalu melakukan segala yang bersifat positif dan mendukung hala-hal yang baik. Apakah saya akan menampar jika seseorang melakukan kesalahan? Tidak. Saya hanya akan kembali membangun dan mengeluarkan kekuatannya,” jelas Skibbe lagi.

Meski begitu, Skibbe tak boleh menganggap remeh situasi yang ada. Pasalnya, andai Christian Lell cs kembali kalah pada pekan depan, dia akan dikenang sebagai pelatih dengan start terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir tak pernah ada pelatih yang menelan kekalahan dalam empat laga perdananya. (Sepp Ginz)

Hoffenheim Tuai Kritik

10 Jan
Nico Franke

Langkah TSG 1899 Hoffenheim mengontrak Nico Franke yang baru berumur 13 tahun mendatangkan banyak kritik dari pelbagai pihak. (Foto: http://www.bz-berlin.de)

BADAI KRITIK tengah mendera TSG 1899 Hoffenheim. Gara-garanya, klub yang disokong pengusaha Dietmar Hopp tersebut merekrut pemain yang baru berumur 13 tahun, Nico Franke, dari Tennis Borussia Berlin. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai sesuatu yang tidak pantas.

“Hoffenheim sangat agresif dalam hal yang satu ini. Saya tahu persis hal itu saat saya di VfB Stuttgart,” ucap Markus Babbel, eks pelatih Hertha BSC Berlin, seperti dikutip Kölner Express. “Bukan langkah bijak mengambil anak berumur 14 atau 15 tahun dari rumahnya.”

Hal senada disuarakan eks Manajer Union Berlin, Christian Beeck. “Perkembangannya sungguh mengkhawatirkan. Secara hukum orang tualah yang berkewajiban mengurusi dan melindungi anak berumur 14 atau 15 tahun. Mereka belum mengerti apa pun. Tapi, itulah yang kadang dimanfaatkan oleh agen,” kecam dia.

Menanggapi tudingan klubnya melakukan perdagangan anak-anak, Manajer Ernst Tanner buru-buru mengeluarkan tangkisan. “Meski tak terlibat langsung, sepengetahuan saya, Franke juga mendapat tawaran dari Bayern, Hertha, dan beberapa klub lain dari Barat. Tapi, mungkin tawaran kamilah yang lebih meyakinkan. Kami tak punya masalah karena tak melanggar aturan,” jelas dia dengan gamblang.

Hoffenheim sendiri bukanlah klub pertama dan satu-satunya yang mengontrak pemain yang masih berusia kanak-kanak. Barcelona dan Manchester United pun melakukan hal serupa. El Barca mengontrak Takefuso Kubo (8 th) yang disebut-sebut sebagai The Next Lionel Messi, sedangkan MU mengikat Charlie Jackson yang baru berumur lima tahun.

Perkembangan ini pun telah mendapat kecaman dari Presiden UEFA Michel Platini. Sementara Managing Director Deutscher Fussball Liga (DFL) Holger Hieronymus menyatakan pihaknya tak bisa berbuat banyak. Menurut dia, satu-satunya cara menghentikan hal itu adalah dengan mengubah statuta. Untuk itu, diperlukan kesepakatan dari klub-klub. (Sepp Ginz)

Motivasi Khusus Skibbe

6 Jan
Michael Skibbe

Berhasil mengantar Hertha BSC Berlin ke kompetisi antarklub Eropa, Michael Skibbe bakal mendapat bayaran tambahan. (Foto: http://www.n-tv.de)

ADA OPTIMISME TINGGI yang diusung Michael Skibbe, pelatih baru Hertha BSC Berlin. Saat diperkenalkan pertama kali sebagai pengganti Markus Babbel, dia dengan yakin menargetkan Die Alte Dame mengakhiri musim di posisi keenam alias merebut tiket ke Liga Europa.

Selidik punya selidik, ada motivasi khusus di balik optimisme itu. Seperti diberitakan BZ Berlin, pelatih berumur 46 tahun itu akan mendapatkan bonus khusus jika mengantar Hertha berprestasi apik. Hal itu tertera dengan jelas dalam klausul kontraknya yang berlaku hingga 2014. Itu dibenarkan oleh Manajer Michael Preetz. “Kami memang telah mendiskusikan hal itu secara detail dengan dia,” ungkap dia.

Jika berhasil mengantar Hertha menjuarai DFB Pokal dan merebut tiket ke Liga Europa, Skibbe akan diganjar bonus 150 ribu euro. Sementara itu, andai Patrick Ebert dkk. mampu lolos ke Liga Champions, bonus yang didapatkann akan lebih besar, yakni 250 ribu euro. Skibbe sendiri digaji 1 juta euro per tahun oleh Hertha.

Lalu, bagaimana bila Skibbe gagal total? Kiprahnya di Olympiastadion dipastikan tak akan bisa lebih lama. Sesuai klausul kontraknya, dia harus angkat kaki bila hingga 2014 tak sanggup memberikan trofi dan membawa Die Alte Dame berprestasi apik di Bundesliga 1. (Sepp Ginz)

Asa Baru Ronny

3 Jan
Ronny

Kedatangan Michael Skibbe membuka peluang Ronny untuk kembali unjuk gigi. (Foto: http://www.bz-berlin.de)

PERGANTIAN PELATIH selalu membawa harapan baru bagi para pemain yang sempat terpinggirkan. Bek Hertha BSC Berlin, Ronny, merasakan hal itu ketika Markus Babbel digantikan Michael Skibbe. Pemain asal Brasil yang sempat disortir dan tak masuk tim utama pada era Babbel itu dipastikan bisa berharap banyak.

Indikasinya sangat jelas. Skibbe sampai meminta eks anak buahnya di Eskisehirspor, Dede, untuk menjelaskan secara langsung via telepon kepada Ronny dan Raffael soal kepemimpinan Skibbe. Secara khusus, soal Ronny, Skibbe mengatakan kepada Bild, “Ronny belakangan telah memperlihatkan kemampuannya. Dia akan mendapatkan kesempatan dari saya.”

Skibbe yakin bisa mengoptimalkan kemampuan Ronny dan para pemain Amerika Selatan lainnya. “Saya suka bekerja sama dengan orang-orang Amerika Selatan. Saya telah melatih banyak pemain Brasil dan sering pula memantau para pemain muda dari sana. Saya tahu persis mentalitas mereka. Saya juga bisa berbicara dalam bahasa Portugis dan Spanyol,” urai dia.

Lebih lanjut, eks asisten Rudi Völler saat menukangi timnas Jerman itu mengajukan beberapa contoh pengalaman masa lalunya. “Lincoln, Chris, Dede, Caio adalah beberapa contoh pemain yang pernah saya tangani. Orang bilang saya bisa bekerja sama apik dengan para pemain Amerika Selatan,” ujar Skibbe kepada BZ Berlin.

Karena memahami karakteristik dan mentalitas para pemain Amerika Selatan dengan baik, tak jarang Skibbe memberikan perlakuan khusus. Contohnya saat dia menukangi Bayer Leverkusen. Seperti diungkapkan kepada BZ Berlin, Skibbe mengaku memberikan waktu pulang kampung sebulan sekali kepada Arturo Vidal. Pasalnya, dia menilai Vidal tak bisa menikmati waktu libur mingguan seperti para pemain lain yang tak terpisah jauh dari keluarganya.

Kebijakan serupa bisa jadi bakal dirasakan Ronny. Apalagi Skibbe akan tetap didampingi Edwin Bokamp sebagai asisten. Selasa (3/1), dia menandatangani kontrak hingga 2014. Sebagai sosok yang lama mendampingi Skibbe, Bokamp tentu juga mengerti cara Skibbe menangani para pemain Amerika Selatan. (Sepp Ginz)