Tag Archives: Samed Yesil

Merenda Masa Depan Bersama Generasi Yesil

31 Dec

PEMUSATAN LATIHAN jelang paruh kedua biasanya hanya ditujukan untuk jangka pendek. Biasanya, dalam waktu singkat, klub-klub hanya fokus pada pembenahan tim berdasarkan evaluasi paruh pertama. Namun, bagi Bayer Leverkusen, pemusatan latihan di Algarve (Portugal) yang dimulai pada 4 Januari memiliki makna lain. Tim asuhan Robin Dutt itu melihat lebih jauh ke depan.

Seperti diungkapkan Chairman Wolfgang Holzhäuser, Leverkusen akan menjadikan pemusatan latihan kali ini sebagai persiapan menyongsong musim 2012-13. “Di Portugal, kami bukan hanya bersiap untuk paruh kedua, melainkan juga untuk musim depan. Ini lebih ke rencana jangka menengah dengan memfokuskan pada para pemain muda,” jelas dia kepada Kölner Express.

Program itu diwujudkan dengan membawa lima youngster ke Algarve. Mereka adalah Okan Aydin (17 th), Samed Yesil (17 th), Dominik Kohr (17 th), Kolja Pusch (18 th), dan Danny da Costa (18 th). Kelimanya saat ini berstatus penggawa timnas junior Jerman. Di antara mereka, Yesil dan Aydin adalah yang paling ternama. Maklum, keduanya tampil sangat impresif di Piala Dunia U-17 pada pertengahan tahun lalu.

Holzhäuser menegaskan, pihaknya memang punya rencana besar untuk generasi Yesil ini. Menurut dia, Yesil cs. akan diandalkan pada masa yang akan datang. Jürgen Gelsdorf, Koordinator Tim Junior Leverkusen, yakin akan hal itu. Dia bahkan berharap ada di antara lima pemain belia itu yang mampu menembus tim utama seperti yang dilakukan Julian Draxler di FC Schalke 04 pada musim lalu.

“Samed dan Okan pada Juli lalu bermain luar biasa di Piala Dunia (U-17) di Meksiko dan agak kelelahan. Namun, saya kira kelima pemain itu sekarang benar-benar fit. Semoga saja mereka bisa membuat Robin Dutt terkesan,” ungkap dia.

Persiapan dini yang dilakukan Leverkusen itu pun sangat berdasar. Setidaknya ada dua alasan yang membuat mereka mulai fokus ke jangka menengah. Pertama, kualitas pemain-pemain muda yang ada di tim junior memang terbilang bagus. Di tengah tren pengorbitan pemain-pemain muda yang dilakukan banyak klub Jerman, tak ada alasan untuk tak memberi mereka kesempatan.

Alasan kedua berkaitan dengan kontrak beberapa pemain yang akan habis dalam waktu dekat. Juni nanti, setidaknya ada empat pemain yang habis kontrak. Mereka adalah Hanno Balitsch, Tranquillo Barnetta, René Adler, dan Michael Ballack. Balitsch malah sudah dipersilakan mencari klub baru. Lalu, setahun kemudian, lima pemain juga akan berstatus free transfer. Di antaranya adalah kapten Simon Rolfes dan striker Eren Derdiyok.

Hal lain yang juga kemungkinan berpengaruh pada kebijakan Werkself adalah mulai kencangnya klub-klub luar negeri yang mengarahkan bidikan kepada para talenta istimewa yang mereka miliki. Misalnya Yesil. Sejak tampil cemerlang di Piala Dunia U-17, Arsenal terus berusaha memboyong pemain berdarah Turki itu ke Stadion Emirates. Leverkusen tentu tak ingin permatanya itu memilih hengkang hanya karena merasa tak diberi kepercayaan.

Kita tunggu saja apakah ada di antara kelima permata belia itu yang mampu menarik hati Dutt dan menapaki jejak Draxler. Maklum, dengan performa yang tak begitu apik pada paruh pertama, sangat mungkin pelatih berdarah India itu memendam harapan juga terhadap mereka. (Sepp Ginz)

Advertisements

Peluang Yesil Ikuti Draxler

23 Dec
Samed Yesil

Setelah tampil apik saat membela Jerman di Piala Dunia U-17, kini Samed Yesil berkesempatan menembus tim senior Bayer Leverkusen. (Foto: http://www.sueddeutsche.de)

JANUARI 2011, publik sepak bola Jerman dikejutkan oleh putusan Felix Magath memberikan kesempatan kepada pemain yang masih belia, Julian Draxler. Dia membawa anak muda itu ke tempat pemusatan latihan FC Schalke 04 dan lantas memberikan kesempatan melakukan debut saat Schalke menjamu Hamburger SV pada 15 Januari 2011.

Setahun berlalu, langkah Draxler potensial ditapaki pemain belia lainnya, Samed Yesil. Penyerang keturunan Turki itu dipastikan termasuk satu dari lima pemain muda yang akan diikutsertakan oleh pelatih Robin Dutt dalam pemusatan latihan Bayer Leverkusen di Algarve (Portugal) pada 4 hingga 13 Januari 2012. Jika tampil impresif, termasuk saat Werkself beruji coba dengan RKC Waalwijk pada 8 Januari dan SC Heerenveen tiag hari kemudian, bukan tak mungkin kesempatan tampil di Bundesliga 1 terbuka lebar.

Yesil diakui banyak pihak sebagai anak yang sangat berbakat. Setelah menggebrak di Piala Dunia U-17 bersama timnas Jerman dengan mencetak enam gol dan delapan assist, dia kini tercatat sebagai pemain tersubur di A-Jugend Bundesliga West. Bersama rekan setimnya, Okan Aydin, Yesil mengoleksi sembilan gol. Berkat kemampuannya itu, tak sedikit penggemar sepak bola Jerman yang menantikan dia berkiprah di Bundesliga 1. (Sepp Ginz)

Promosi Bukan Karena Ayah

19 Nov

GEMBIRA SEKALIGUS TERKEJUT. Itulah perasaan yang berkecamuk di dada Mitchell Weiser ketika diberi kabar dirinya masuk dalam skuad 1.FC Köln untuk laga menghadapi 1.FSV Mainz 05, Sabtu (19/11). Bukan apa-apa, dia masih sangat muda, 17 tahun. Jika sampai melakukan debut, dia akan memecahkan rekor Stephan Engels yang menjalani debut di Bundesliga 1 pada umur 18 tahun, 3 hari.

Tak sedapnya, ada rumor nepotisme yang mencuat. Maklum, pemain yang mencuat di Piala Dunia U-17 itu adalah anak dari Patrick Weiser, eks penggawa Köln yang kini berada di staf pelatih. Total, Patrick telah mengabdi selama 17 tahun di klub berjuluk Die Geißbocke tersebut.

Untungnya, pelatih Stale Solbakken segera memberikan klarifikasi. “Dia ada di skuad bukan karena ayahnya pelatih di sini. Mitchell adalah pemain bagus yang telah berlatih sangat baik. Dia tak punya rasa takut saat menghadapi nama besar sekalipun,” tutur dia seperti dikutip Bild.

Soal umur yang masih belia, Solbakken menegaskan hal itu bukan risiko besar. Menurut dia, tak selamanya seorang pelatih harus terus menunggu untuk menurunkan pemain muda berbakat. Lukas Podolski pun menyambut baik putusan pelatih asal Norwegia itu.

“Sangat bagus ketika ada bakat muda muncul. Mitchell punya potensi bagus untuk memiliki karier cemerlang. Hal terpenting saat ini, dia tak perlu terbebani. Dia harus tampil lepas,” tutur Poldi.

Terlepas dari kemampuan dan potensinya, Weiser beruntung karena hanya berada di Köln. Andai berada di klub besar, mungkin dia masih berkutat di tim amatir. Itulah yang dialami dua rekannya, Emre Can di FC Bayern München dan Samed Yesil di Bayer Leverkusen. Sementara Marvin Ducksch lumayan beruntung karena sudah dimainkan dalam sebuah laga uji coba Borussia Dortmund pada pekan lalu. (Sepp Ginz)

Dutt Hanya Ingin Nomor Satu

16 Jul
Robin Dutt

Setelah musim lalu menjadi runner-up, Bayer Leverkusen ditargetkan menjadi juara oleh pelatih Robin Dutt. (Foto: http://www.sportschau.de)

AMBISI BESAR diusung Bayer Leverkusen pada musim 2011-12. Setelah musim lalu secara mengejutkan berhasil finish sebagai runner-up, kini mereka ingin mengukir prestasi lebih baik. Pelatih Robin Dutt jelas-jelas menunjuk target Die Werkself adalah menjadi nomor satu alias juara.

“Sungguh sulit masuk akal jika setelah menjadi runner-up, kini kami mencanangkan posisi ketiga atau keempat sebagai target,” ungkap Dutt kepada Kölner Express. “Kami sadar, di kompetisi yang sangat ketat ini, perbedaan yang terdapat antara peringkat pertama dan kesebelas sangatlah tipis. Persaingan akan ditentukan oleh hal-hal kecil. Tapi, tugas saya adalah mengembangkan tim ini.”

Pelatih berayah seorang pria India itu yakin pada kemampuan para pemainnya. Tak terkecuali Michael Ballack yang dianggap salah satu pemain yang tak bersinar pada musim lalu. Menurut dia, Ballack tetaplah pemain yang sangat bagus. Andai bisa tetap fit, Ballack diyakini bisa menjadi kartu as Leverkusen pada musim 2011-12.

Sementara itu, mengenai peluang dua pemain remaja, Samed Yesil dan Okan Aydin, yang gemilang bersama timnas Jerman di Piala Dunia U-17, Dutt tak berani berjanji. Namun, jika perkembangan keduanya memang bagus, kemungkinan membela tim senior tetap terbuka.

“Jika saya lihat mereka memang lebih baik dari yang lain, tentu saja saya akan memberikan kesempatan. Tapi, itu tentu harus didasarkan pada laporan pengelola tim junior. Saya tak pernah bilang bahwa Bundesliga 1 terlalu dini bagi pemain berumur 17 tahun,” papar pelatih yang musim lalu menangani SC Freiburg itu.

Meski tak memberikan janji manis dan jaminan khusus, Dutt memang tak bisa menafikkan kedua pemain belia tersebut. Dia patut bercermin pada Borussia Dortmund yang musim lalu menjulang berkat bantuan Mario Götze yang baru berumur 18 tahun. Siapa tahu, Yesil dan Aydin bisa seperti Götze dan menjadi faktor penentu juara bagi Leverkusen. (Sepp Ginz)

Yesil Cenderung Pilih Jerman

10 Jul
Menurut sang ayah, Sebahattin, Samed Yesil kurang berminat membela Turki. (Foto: www.fifa.com)

Menurut sang ayah, Sebahattin, Samed Yesil kurang berminat membela Turki. (Foto: http://www.fifa.com)

MARAH BESAR dan kesal tiada terkira. Itulah yang dirasakan Matthias Sammer, Direktur Olahraga Deutscher Fussball Bund (DFB), jelang laga semifinal Piala Dunia U-17 antara Jerman dan Meksiko. Pasalnya, Erdal Keser yang menjadi pemandu bakat asosiasi sepak bola Turki menyatakan dua hingga tiga pemain timnas U-17 Jerman dipastikan memilih Turki sebagai tim yang akan dibela pada masa yang akan datang.

Sammer pantas bersikap demikian karena Keser berlaku tidak etis dengan mengungkapkan hal itu saat para pemain berdarah Turki di timnas Jerman berjibaku di Piala Dunia U-17. Lain dari itu, dia pun pasti waswas karena beberapa pemain keturunan Turki itu menunjukkan performa sangat apik. Sebut saja kapten Emre Can dan striker Samed Yesil.

Untungnya, kini kabar sejuk datang bagi Sammer. Yesil yang sejauh ini telah mengemas 19 gol dalam 20 laga timnas U-17 Jerman menyatakan tidak begitu tertarik oleh rayuan Keser. Hal itu diungkapkan ayah Yesil, Sebahattin Yesil, dalam wawancara dengan Kölner Express. Menurut dia, anaknya bakal tetap memburu tempat di tim senior Der Panzer.

“Pada 2010, kami sempat berdiskusi dengan asosiasi sepak bola Turki. Kami ingin mendengarkan penjelasan mereka. Kami dijanjikan banyak hal, tapi tak satu pun yang diwujudkan. Anak saya sendiri sudah memutuskan bahwa dia lebih tertarik membela Jerman,” papar Sebahattin.

Jika menilik kondisi saat ini, peluang Yesil membela timnas Jerman asuhan Joachim Löw terbilang besar. Pasalnya, Jerman kekurangan stok striker muda berbakat. Löw sudah pernah mengungkapkan masalah ini pada tahun lalu. Faktanya, jarang klub Bundesliga 1 yang mengandalkan striker muda lokal. Kebanyakan bertumpu pada striker-striker asing.

Satu hal yang patut dicatat, Yesil perlu terus meningkatkan performanya. Sebagai langkah awal, tentu saja menembus tim inti Bayer Leverkusen dalam beberapa musim ke depan. Dia harus bercermin pada kegagalan Richard Sukuta-Pasu yang kebetulan sama-sama berasal dari akademi Leverkusen. Meski mencorong di Piala Dunia U-17 pada 2007, dia tak jua mencuat. Musim lalu, dia pun tak bisa berbicara banyak saat dipinjamkan ke St. Pauli.

Mengenai hal itu, Sebahattin yakin anaknya bakal berhasil mengembangkan kariernya dengan baik. Dia menilai Leverkusen sebagai lingkungan yang tepat bagi Yesil. Itu pula yang membuat Yesil setuju bertahan hingga 2016.

“Di Leverkusen, Samed berada di tangan yang tepat,” ungkap Sebahattin. “Berlaga di sepak bola profesional bersama Leverkusen juga sudah menjadi impiannya. Tentu saja saya juga berharap demikian. Tapi, semuanya tergantung Leverkusen dan pelatih kepala.” (Sepp Ginz)